![]() |
| foto: dok.Pribadi |
Dalam konsep pemerintahan, ketahanan Pangan telah berkali-kali dicetuskan, yang terbaru yakni dalam Undang-Ungan nomor 11 tahun 2020. Di mana ketahanan pangan dalam konsepsi adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.
Ragam masakan tradisional merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang berbentuk kekayaan intelektual yang mencakup pengetahuan, teknik, keterampilan dan praktik komunal yang diwariskan turun-temurun. Pengetahuan tersebut berkembang terus-menerus sehingga menjadi sebuah warisan tradisional hingga menjadi suatu identitas.
Dari ragam masakan tradisional tersebut bisa dilihat bagaimana cara sebuah komunitas masyarakat tertentu memiliki ketahanan pangannya sendiri untuk bertahan hidup. Tidak hanya ketahanan pangan pokok yang menjadi isu penting saat ini, namun ketahanan pangan alternatif juga menentukan apakah masyarakat telah mendapatkan gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Berlimpahnya bahan pangan di alam membuat masyarakat Rejang memiliki ragam masakan yang kaya. Salah satu masakan tradisional Suku Rejang ialah Sama Ujak. Sama Ujak Lem Boloak demikian sebutannya dalam Bahasa Rejang. Secara terminologi, dapat diartikan sebagai Sama Ujak yang dimasak di dalam bambu atau sambal penyet dalam bambu. Sambal atau sama ini merupakan menu yang disajikan untuk makanan sehari-hari.
Pengetahuan yang terkait dengan pengolahan atau pemanfaatan tumbuhan liar maupun tumbuhan hasil pembudidayaan adalah hasil dari kekayaan intelektual mereka. Pengetahuan tersebut didapat dari tradisi berkebun yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Suku Rejang. Dalam kesehariannya,mayoritas masyarakat Rejang bekerja sebagai petani dengan berkebun kopi dan lada. Dalam waktu tertentu, mereka biasanya akan tinggal lebih lama di kebun yang jauh dari pemukiman. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, mereka memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar tempat tinggal dan ladang mereka. Misalnya bambu yang menjadi media memasak Sama Ujak, sayur sayuran dan ikan sungai. Sayur-sayuran yang biasanya dijadikan pelengkap dalam Sama Ujak Lem Boloak ialah Pucuk Kambas, Daun Singkong, dan Pucuk Lumai. Sayur-sayuran tersebut sebagian tumbuh liar dan sebagian lagi memang dibudidayakan. Sedangkan ikan, biasanya dari hasil berburu di sungai dengan cara memancing atau dengan cara memasang perangkap seperti Beuw. Ikan yang di dapat biasanya jenis ikan Kepiat, Ikan Putih, Kebarau dan lainya.
![]() |
| foto: dok. pribadi |
Untuk memasak Sama Ujak, memerlukan bahan seperti Cabai, Bawang Kucai, Cung Kediro atau tomat kecil kecil. Bahan campuran sifatnya hanya opsional, tergantung ketersediaan seperti ikan teri atau petai. Semuanya akan dimasukan ke dalam bambu lalu dimasak dengan cara dibakar. Dalam proses memasak, sama akan di tumbuk atau diujak-ujak menggunakan bilah bambu agar sama tersebut masak dengan padu. itulah mengapa sama tersebut dinamakan Sama Ujak Lem Boloak. Dalam penyajianya, Sama Ujak Lem Boloak akan didampingi dengan rebusan sayur-sayuran dan ikan sungai yang telah di asap atau digoreng.
Untuk mendukung program pemerintah yakni pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional tersebut, Kementerian Kebudayaan melakukan upaya pendataan terkait potensi pangan lokal yang bisa dikembangkan sebagai warisan budaya dan identitas sebuah bangsa. Program tersebut sudah dilakukan sejak 2025 yang bekerjasama dengan masyarakat adat di seluruh nusantara. Dengan melestarikan pangan lokal, kita tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat kedaulatan dan ketahanan pangan nasional di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan ketergantungan impor.
Upaya semacam ini harusnya menjadi sebuah penguatan bagi setiap masyarakat adat untuk tetap mempertahankan tradisi kearifan lokalnya. Setiap suku memiliki pengetahuannya dan kepercayaan masing-masing dalam mengolah bahan pangan lokal. Pengetahuan dalam mengolah bahan pangan lokal tersebut terbentuk dari interaksi panjang antara manusia, alam, dan kepercayaan dari leluhur. Oleh karena itu, kelestarian bahan pangan lokal sangat bergantung pada kondisi alam seperti hutan dan sungai. Apalagi sebagian masyarakat Indonesia yang berada di Pulau Sumatera sangat menggantungkan hidup dari alam. Seperti halnya masyarakat Suku Rejang di Bengkulu.

