Mengenal Batu Penjemuran Sebagai Tinggalan Megalithikum

 

Dok: dewa syofiani.  Batu Penjemuran dengan batu penyangga yang terkubur di dalam tanah tahun 2010

Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu wilayah dataran tinggi di Provinsi Bengkulu yang tercatat banyak ditemukan tinggalan budaya masa prasejarah berupa tempayan kubur, fragmen tembikar, serta batu meja datar atau yang sering disebut dengan Batu Penjemuran oleh masyarakat lokal.

Batu penjemuran terletak di pemukiman lama Desa Tebat Monok yakni Dusun Dalam Benteng Kuto Aur. Batu tersebut berada di tengah pemukiman purba yang memiliki ukuran tradisional dengan luas 10 Bahu (Bouw) yang setara dengan 8 hektare. Meskipun pemukiman tersebut telah menjadi perkebunan kopi masyarakat, namun bekas pemukiman masih bisa ditelusuri dengan merunut parit yang dikelilingi Aur/bambu berduri. Di sekitar pemukiman, terdapat aliran Sungai Ketapang dan komplek pemakaman purba yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar.

Dalam ilmu Arkeologi, Batu Penjemuran tersebut disebut Dolmen. Hal ini merujuk pada ciri dolmen yang berbentuk  meja batu datar yang pipih tak beraturan dan ditopang oleh tiang-tiang batu di bawahnya. Karena keberadaanya memiliki nilai penting bagi Desa Tebat Monok, saat ini Batu Penjemuran tersebut  menjadi cagar budaya tingkat kabupaten.

Masih penasaran dan bingung terkait Batu Penjemuran? Yuk kita simak…

Seni rupa Indonesia terbentuk melalui proses waktu sejak ribuan tahun yang lalu. Diawali dari periode prasejarah (primitive), Zaman prasejarah di Indonesia terbagi atas zaman batu dan logam.  Pada zaman ini, karya seni rupa umumnya digunakan sebagai media upacara dan berifat simbolis. Dalam bukunya, (Margono,dkk: 2010) menjelaskan bahwa seni rupa zaman batu semua peralatan yang digunakan dibuat dari batu. Zaman batu, terdiri atas zaman batu tua (Palaeolithikum), zaman batu tengah (Mesholithikum), zaman batu muda (Neolithikum), dan zaman batu besar (Megalithikum). Peninggalan-peninggalan prasejarah tersebut bisa dikelompokkan menjadi seni bangunan, seni patung dan seni lukis.

Nah, Batu Penjemuran yang kita kenal tersebut adalah seni bangunan yang banyak dihasilkan pada zaman Megalithikum atau zaman batu besar. Selain Dolmen, seni bangunan pada masa Megalithikum juga banyak menghasilkan bangunan dari batu yang berukuran besar seperti punden, bilik batu, tetralit, batu gelang, dan sarkofagus.

Secara umum, Dolmen berfungsi sebagai tempat meletakkan persembahan ritual adat dalam kepercayaan animisme dan dinamisme. Adakalanya bagian bawah dolmen juga digunakan sebagai tempat meletakkan jenazah agar aman dari binatang buas (Sriyana: 2020). Namun, oleh masyarakat Rejang Tebat Monok, dolmen yang disebut Batu Penjemuran tersebut berfungsi untuk ritual penjemuran dan penyembuhan. Selain itu, masyarakat juga meyakini Batu Penjemuran sebagai tempat kepala suku melakukan tirakat untuk mendapatkan anugerah dari leluhur.

Dok: dewa syofiani 2017. Salah satu Dolmen yang hampir tertimbun oleh tanah karena terlepas dari tiang penyangga. 
 

Tinggalan budaya megalithik seperti di atas hampir ditemukan di seluruh nusantara. Beberapa diantaranya berada di kawasan dataran tinggi Bukit Barisan seperti Kabupaten Kepahiang yang memiliki potensi kearkeologian prasejarah yang cukup banyak. Dengan begitu, dapat diasumsikan bahwa adanya kebudayaan megalithik di wilayah Kepahiang adalah akibat dari adanya migrasi budaya atau migrasi manusia ke wilayah ini pada masa lampau.

dewa syofiani

Dewa syofiani adalah seorang penulis dan pemerhati budaya Provinsi Bengkulu. beberapa karyanya pernah terbit di media literabasa, Rakyat Bengkulu (RB) serta buku buku antologi puisi dan budaya. Ia juga merupakan penggiat budaya Kemdikbud 2017-2022. Dan Saat ini fokus menjadi pengajar bahasa, sastra dan budaya di Kab. Kepahiang

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال