![]() |
| (AI generated for illustration purpose only) |
Di sebuah dusun di Renah Sekelawi (dataran Rejang sebelah timur Bukit Barisan), hiduplah seorang pemuda bernama Sutan Indah, anak tunggal seorang kepala dusun yang disegani bijaksana, Ratu Panjang. Sayangnya, Sutan Indah terkenal malas. Ia tidak suka membantu ayahnya bekerja di sawah atau di ladang. Setiap hari ia lebih senang berjalan-jalan di tepi sungai, melihat ikan berenang, burung melompat di dahan, dan tupai bermain di rumpun bambu.
Suatu hari Sutan Indah melihat sepotong bambu kecil hanyut di sungai. Aneh sekali, di atas bambu itu bertengger seekor burung camar yang tidak terbang meski ia mendekat. Bambu itu malah menepi sendiri ke arah Sutan Indah. Karena penasaran, ia membawa bambu dan burung itu pulang.
Malam harinya, Sutan Indah bermimpi didatangi seorang bidadari cantik.
Bidadari itu berkata, "Sutan Indah, buatlah olehmu sebuah serdam dari bambu yang kaudapati di sungai kemarin sedangkan burung itu sembelih dan tanakkan minyaknya. Minyaknya kau lumurkan pada serdammu itu, keringkan selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Aku ingin sekali mendengar bunyi serdammu itu Sutan Indah...."
Baca Versi Aslinya : Cerita Rakyat Bengkulu: Legau Serdam, Alunan Seruling Buluh Perindu
Sutan Indah mengikuti petunjuk itu dengan hati-hati. Setelah empat puluh hari, Sutan Indah mencoba meniup serdamnya. Ternyata suaranya sangat merdu dan menyentuh hati. Siapa pun yang mendengarnya menjadi terpukau. Orang-orang yang sedang bekerja berhenti bekerja, bahkan ada yang lupa dengan pekerjaannya karena terlalu asyik mendengarkan alunan serdam itu.
Lama-kelamaan ayah Sutan Indah menjadi marah. Menurutnya, serdam itu membuat orang-orang lalai. Ia pun mengusir Sutan Indah dari kampung. Dengan sedih, Sutan Indah pergi mengembara membawa serdam buluh perindunya.
Suatu hari dalam pengembaraan, Sutan Indah sampai di sebuah bukit yang sering didatangi para bidadari. Di sana ia bertemu Krikam Manis, seorang bidadari yang sedang menjaga bayi milik seorang peri. Ketika Krikam Manis mendengar alunan serdam Sutan Indah, ia terpesona dan ingin melihat siapa yang meniupnya. Namun karena terlalu terpesona, bayi yang dijaganya terjatuh ke jurang. Takut akan hukuman, Krikam Manis melarikan diri dan akhirnya bertemu dengan Sutan Indah.
Sejak saat itu mereka berjalan bersama. Sutan Indah melindungi Krikam Manis, sementara Krikam Manis merasa tenang setiap mendengar serdam yang ditiup Sutan Indah. Lambat laun mereka saling menyayangi.
Suatu hari Sutan Indah berkata bahwa ia ingin pulang sebentar untuk menemui ibunya dan memberi kabar bahwa ia ingin menikahi Krikam Manis. Ia meminta Krikam Manis menunggu di sebuah pondok yang telah ia buat di hutan.
Sutan Indah pun pulang ke kampungnya. Ibunya sangat gembira mendengar kabar itu, bahkan ayahnya juga sudah tidak marah lagi. Mereka lalu beramai-ramai pergi ke hutan untuk menjemput Krikam Manis.
Namun ketika rombongan datang membawa obor di malam hari, Krikam Manis menjadi takut. Ia mengira orang-orang itu ingin menyakitinya, karena ia sama sekali tidak melihat Sutan Indah. Tanpa berpikir panjang, ia melarikan diri ke dalam hutan yang gelap.
Ketika rombongan sampai di pondok, Krikam Manis sudah tidak ada. Yang tertinggal hanya sepotong kain dari selendangnya.
Sutan Indah sangat sedih. Ia kembali mengembara mencari Krikam Manis. Di suatu dataran tinggi ia meniup serdamnya sambil meneteskan air mata. Alunan serdamnya terdengar sangat pilu, seolah memanggil orang-orang yang ia cintai.
"do logau alu moi das lengat,
duai logau ngan ratu panjang,
tlau logau ngan krikam manis....."
Lagu yang pertama ini kupersembahkan ke atas langit, untuk para Dewa,
keluarga Krikam Manis, dengarlah.
Lagu yang kedua kusampaikan kepada ibuku dan bapakku Ratu Panjang
dan lagu yang ketiga untukmu sayang, di mana saja aku berada,
dengarlah......dengarlah......
Catatan :
Seri Cerita Rakyat Rejang Pengantar Tidur Anak ini diolah dan disederhanakan dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Tentu saja dengan tetapa mempertahankan alur Cerita, tokoh-tokoh dan aspek-apek penting lainnya. Tujuannya tidak lain untuk mengenalkan cerita-cerita Rakyat Bengkulu kepada generasi Penerus.
Sumber Asli : Syahid, Abu BA dan Ramli Ahmad SH, 1982. Ceritera Rakyat Daerah Bengkulu. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

