header ads

Bubur Talam, Kearifan Lokal Asli Suku Pasemah di Seberang Musi

 

Dinikmati Dengan Kuah Santan Gula Merah
(Foto: Dewa Syofiani)


Suku Besemah atau yang dikenal dengan Pasemah, secara geografis  mendiami wilayah pedalaman Sumatera bagian selatan. Suku ini merupakan salah satu suku tertua yang mendiami wilayah Bukit Barisan di sekitar Gunung Dempo. Secara administrasi, Pasemah menjadi penduduk asli yang mendiami Kota Pagaralam. Meski demikian, masyarakat Pasemah juga dapat ditemui di beberapa daerah dalam wilayah Bengkulu. Misalnya, di Kabupaten Kepahiang koloni masyarakat Pasemah dapat ditemui di Kecamatan Seberang Musi. Hal ini disebabkan karena Seberang Musi merupakan wilayah perbatasan antara Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Masyarakat Pasemah tersebar luas hampir di seluruh desa yang ada di Seberang Musi. Seperti Benuang Galing, Babatan, Talang Gelompok, dan Tebat Laut  yang  mayoritas penduduknya adalah Suku Pasemah. Selain itu, masyarakat Pasemah juga tersebar di beberapa desa seperti Sungai Jernih, Air Pesi, dan Air Selimang.

Secara sosial budaya, tidak bisa dipungkiri bahwa proses migrasi Suku Pasemah ke Wilayah Rejang ini juga mengakibatkan terjadinya asimilasi dalam adat dan budaya secara umum. Meskipun demikian, masyarakat Pasemah di wilayah Seberang Musi masih memiliki beberapa budaya asli yang masih dipertahankan. Mulai dari bahasa, teknologi tradisional, serta  pengetahuan tradisionalnya yang masih bisa dijumpai meski secara administrasi berada di wilayah teritorial Rejang.

Dalam UU no 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, makanan tradisional merupakan bagian dari salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK)  Pengetahuan Tradisonal. Makanan tradisional memiliki makna penting bagi kehidupan manusia. Bahkan makanan menjadi simbol diplomasi dan entitas bagi sebuah bangsa. Salah satu panganan tradisional unik masyarakat Pasemah yang masih bisa dijumpai di wilayah ini adalah Bubur Talam. Selain jadi makanan sehari-hari masayarakat Pasemah, Bubur Talam juga bisa ditemukan di pasar tradisonal kalangan (pasar pekan) yang ada satu kali dalam seminggu. Misalnya, di kalangan gorong-gorong Desa Benuang Galing. Selain itu juga, Bubur Talam menjadi makanan yang disajikan dalam berbagai acara seperti peringatan kematian,  bulan Ramadan, dan terkadang dijumpai dalam acara pernikahan.

“ Bubur Talam, adalah makanan yang terbuat dari tepung beras yang berwarna dan beraroma daun pandan. Berbeda dengan kue talam biasanya, Talam ini dinikmati dengan  kuah santan yang dimasak dengan gula merah. Rasanya yang manis diyakini akan menambah daya tahan tubuh. “

Ditengah gempuran makanan siap saji yang dihadapi saat ini, Bubur Talam tetap menjadi makanan yang digemari sekaligus menjadi identitas Suku Pasemah yang masih bisa dijumpai di kehidupan sehari-hari. Apalagi, saat ini fenomena kembalinya makanan tradisional oleh generasi muda sedang  menjadi tren. Hal ini merupakan sebuah peluang untuk pelestarian makanan tradisional.  Oleh karena itu, adaptasi kuliner tardisional oleh generasi muda menjadi kunci untuk tetap relevan dan kompetitif di tengah kuliner modern. Tantanganya adalah bagaimana proses adaptasi tersebut  mendapatkan tempat agar keberadaan kuliner tradisional tetap  terjaga keontentikannya. Sehingga makanan tradisional tersebut bisa direkomendasikan menjadi warisan budaya tak benda di komunitasnya.

Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kebudayaan telah banyak menetapkan makanan tradisional berbagai daerah menjadi warisan budaya tak benda tingkat nasional sebagai bagian dari upaya pelestarian. Bahkan, UNESCO juga telah banyak mengakui makanan tradisional Indonesia sebagai warisan budaya tak benda (WBTb) tingkat dunia.  

dewa syofiani

Dewa syofiani adalah seorang penulis dan pemerhati budaya Provinsi Bengkulu. beberapa karyanya pernah terbit di media literabasa, Rakyat Bengkulu (RB) serta buku buku antologi puisi dan budaya. Ia juga merupakan penggiat budaya Kemdikbud 2017-2022. Dan Saat ini fokus menjadi pengajar bahasa, sastra dan budaya di Kab. Kepahiang

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال