header ads

Semantika: Beda Makna Kata Taneak dan Pitak dalam Bahasa Rejang

(Ilustrasi : AI generated for illustration purpose only)

Sudah tahukah anda?

Berdasarkan kajian semantik, kata taneak dan pitak dalam bahasa Rejang memiliki makna yang berbeda, meskipun, kedua kata tersebut memiliki arti yang sama yaitu ‘tanah’.

Jano si semantik yo? 
Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang arti kata atau makna. Sehingga, semantik dapat membantu kita untuk memahami bagaimana bahasa menyampaikan arti sesuai dengan konteks dan struktur bahasa yang digunakan. Tidak hanya memperkaya wawasan bahasa, semantik juga berperan membuka jendela ke pandangan dunia serta bagaimana hubungan masyarakat Rejang dengan alam semesta dan leluhurnya melalui bahasa.

Pemilihan kata yang sesuai bergantung pada makna yang didukung oleh bermacam bentuk sehingga menimbulkan rangsangan atau reaksi dalam pikiran pendengar. Seperti halnya, kata taneak dan pitak ketika diucapkan akan menimbulkan reaksi pada orang yang mendengar. Reaksi yang timbul itu dapat berwujud pengertian, perasaan, nada, dan tujuan.

Kata taneak, merujuk pada kata tanah dalam artian yang paling luas dan umum. Tanah yang dimaksud adalah sebuah daratan yang secara fisik melambangkan sebuah wilayah, kampung atau bahkan menggambarkan seluruh lanskap. Apalagi, jika kata taneak mendapatkan penambahan kata diwo yang memiliki arti dewa, hingga menjadi frase taneak bediwo maka maknanya akan menjadi sakral. Taneak bediwo akan cenderung menggambarkan suatu kawasan atau wilayah geografis yang secara hakikatnya merupakan sebuah wilayah yang mendapatkan berkah dari kekuatan leluhur atau sang pencipta karena kesuburan dan kemakmuranya. Misalnya, penggunaan frase tersebut merujuk pada sebuah dataran luas, lembah, gunung, atau sebuah desa yang diyakini memiliki perlindungan atau karunia dari dewa. Dengan kata lain, taneak diwo merupakan sebuah karakter yang merepresentasikan wilayah Rejang itu sendiri.

Disamping itu, kata pitak digunakan untuk menyebut tanah secara khusus. Secara spesifik pitak merujuk pada kata “sawah,” “ladang,” atau “sebidang tanah.” Dengan demikian, pitak memiliki makna yang lebih sempit, terfokus dan lebih spesifik.

Lantas, bagaimana kata pitak jika mendapatkan penambahan kata diwo? Apakah maknanya akan sama atau berubah?  

Ketika pitak menjadi frase pitak bediwo, maka akan tetap memiliki makna berkah dari sang pencipta. Akan tetapi, berkah yang dimaksud adalah berkah yang lebih spesifik dihasilkan dari kerja keras manusia dalam mengolah tanah atau lahan. Dalam hal ini, berkah yang di dapat adalah dari hasilnya. Karena, cara mengolah yang baik akan mendapatkan hasil yang baik pula.

Analisis ini menunjukkan bahwa, bagaimana perbedaan bahasa Rejang secara halus membedakan konsep berkah yang diberikan secara pasif dan aktif. Beberapa kata dalam bahasa daerah Rejang bisa jadi memiliki makna yang tersurat maupun tersirat. Sehingga, setiap kata yang diucapkan akan membawa serta perasaan, pengertian serta tujuanya.

Nah kira-kira mana yang lebih tepat untuk dijadikan slogan? Taneak Bediwo ataukah Pitak Bediwo?

 

 

 

dewa syofiani

Dewa syofiani adalah seorang penulis dan pemerhati budaya Provinsi Bengkulu. beberapa karyanya pernah terbit di media literabasa, Rakyat Bengkulu (RB) serta buku buku antologi puisi dan budaya. Ia juga merupakan penggiat budaya Kemdikbud 2017-2022. Dan Saat ini fokus menjadi pengajar bahasa, sastra dan budaya di Kab. Kepahiang

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال