Tepat seratus tahun yang lalu, di tahun 1926, Kepahiang pernah viral dan menjadi pemberitaan dunia internasional. Ilmuwan dan para ahli astronomi dari mancanegara melakukan ekspedisi ke Kepahiang. Selain mengamati Gerhana Matahai Total (GMT) yang saat itu melewati Bengkulu dan Palembang, mereka juga akan membuktikan Teori Relativitas Einstein. Lapangan Santoso (sekarang disebut Taman Santoso) dipilih menjadi salah satu titik lokasi pengamatan. Tak ayal, Kepahiang pun menjadi pemberitaan di beberapa Koran internasioal dan jurnal-jurnal ilmiah bergengsi saat itu.
Sedikit kilas balik beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1915, Albert Einstein yang saat itu belum terlalu terkenal, mengemukakan sebuah gagasan bahwa gravitasi bisa melengkungkan ruang dan waktu. Gagasan itu merupakan bagian dari Teori Relativitas Einstein. Teori Einstein itu agak bertentangan dengan teori yang dikemukakan Sir Isaac Newton, ilmuwan Jenius yang notabene telah dihomati sejak lama. Tentu saja, hal ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan ilmuwan dunia. Sayangnya, Teori Prediksi Einstein hanya bisa diuji validitasnya saat gerhana matahari total.
Pada gerhana matahari 29 Mei 1919, sebuah tim astronom yang diketuai Arthur Eddington mengukur posisi bintang di sekitar Matahari. Hasil pengamatannya menunjukkan pergeseran posisi bintang sesuai dengan prediksi relativitas umum Einstein, sekaligus mematahkan prediksi Newton. Hal ini melambungkan nama Albert Einstein sebagai Ilmuwan Jenius, sekaligus menjadikannya ada di posisi atas kalangan elit ilmuwan dunia. Meski begitu, sebagian ilmuwan dan astronom masih memiliki keragu-raguan akan hal itu.
Maka saat diprediksi Pulau Sumatra akan menjadi titik perlintasan utama gerhana matahari total pada 14 Januari 1926, para peneliti dan astronom dari berbagai Negara dan universitas ternama rela melakukan perjalanan lebih dari separuh dunia untuk mengamati fenomena langka tersebut. Dan tentu saja sekaligus untuk menguji ulang teori relativitas Einstein. Tercatat setidaknya ada sebanyak 50 astronom dan ahli internasional yang berangkat menuju sumatera. Mereka terbagi menjadi 3 tim ekspedisi.
- Tim Ekspedisi U.S. Naval Observatory (Observatorium Angkatan Laut Amerika) menuju ke Tebing Tinggi atau Kepahiag dengan fokus pada pemotretan korona dan pengujian teori Relativitas Einstein.
- Tim Ekpedisi Universitas Harvard dan Swantsmore, bergerak ke Kota Bengkulu. Fokus mereka pada pengukuran intensitas dan distribusi radiasi korona.
- Tim Ekspedisi “Tuan rumah” Hindia Belanda, wakil dari Royal Netherlands Academy of Art and Sciences, mendirikan stasiun pengamatan di Prabumulih.
Ekspedisi U.S. Naval Observatory dipimpin oleh Kapten F. B. Littell (Profesor Matematika, Korps Angkatan Laut AS), yang sebelumnya mengamati gerhana tahun 1901 di Solok. Beliau didampingi oleh:
- G. H. Peters: Astronom Rekanan yang mengamati gerhana 1901 di Fort de Kock (Bukittinggi)
- Dr. J. A. Anderson: Dari Observatorium Mt. Wilson, seorang veteran pengamat gerhana yang bertanggung jawab atas pekerjaan spektrografi.
- G. M. Raynsford: Asisten Astronom dari Observatorium Angkatan Laut.
- Letnan H. C. Kellers: Korps Medis Angkatan Laut AS, yang juga mewakili Institusi Smithsonian untuk mengumpulkan spesimen serangga dan hewan.
- Tujuh bintara Angkatan Laut: Ditugaskan untuk membantu pemasangan instrumen dan pengamatan.
- Beberapa orang penduduk lokal, yang tercatat ada dua, yaitu mandor Ali dan Abdul.
![]() |
“Jalur kereta api hanya membentang sekitar setengah jalan, sementara bagian perjalanan yang lebih panjang dan berat ditempuh dengan mobil dan truk melewati daerah pegunungan di Pantai Barat. Semua layanan ini dimiliki oleh pemerintah, dan seluruh transportasi bagi rombongan ekspedisi gerhana diberikan secara gratis…. “
Tim ini tiba di Kepahiang, pada awal November 1925. F. B. Littell, sebagai ketua Tim US Naval, memberikan gambaran menarik tentang Kepahiang saat itu .
“Kepahiang terbukti menjadi desa yang sangat menarik di lembah indah yang cukup tinggi di pegunungan Pantai Barat, maka lokasi pengamatan ditetapkan di sana. Ketinggiannya adalah 1.700 kaki di atas permukaan laut, dan kota ini berpusat di sekitar lapangan rumput datar berbentuk segitiga seluas lima atau enam hektar yang disebut "Aloon-aloon".
Lebih lanjut Littell menulis ada lebih dari selusin orang Eropa di Kepahiang saat itu, beberapa orang Tionghoa (sebagian besar pedagang), dan ratusan orang Melayu.
Dapat disimpulkan bahwa lokasi stasiun pengamatan gerhana ini berada di Lapangan Santoso saat ini. Lokasi stasiun gerhana akhirnya ditempatkan di sisi barat Lapangan, tepat di seberang gudang kopi H. Zurdi Nata sekarang.
![]() |
(Sumber Foto : Popular Science. Foto ini hitam putih, pewarnaan dan detailing agar lebih mudah ditelaah) |
“Pada pukul 11:00 pagi cuaca tampak sangat buruk sehingga operator film dikirim dengan mobil untuk mencari lokasi yang tidak terlalu berawan. Satu jam kemudian, muncul pemikiran bahwa mengirimnya pergi adalah sebuah kesalahan, karena langit tampak akan sangat cerah.”
Menjelang detik-detik GMT, matahari yang mulai terlihat melalui celah-celah awan, dan kondisi ini berlanjut hingga pukul 02:41 saat matahari yang tergerhana sebagian kembali bersinar indah di area langit yang luas dan cerah.
Secara umum. program pengamatan berhasil dan berjalan sesuai rencana. Beberapa foto luar biasa dari korona bagian dalam berhasil didapatkan. Meski pengujian untuk Teori Relativitas Einstein dianggap gagal, karena foto-foto yang dibutuhkan tidak berhasil didapatkan. Beberapa hari setelahnya, ekspedisi ini menjadi headline dan pemberitaan di Koran Internasioal. Kepahiang pun sempat viral pada masa itu. (de)
![]() |
| Foto Korona oleh G. H. Peters, Astronom Asosiasi, Observatorium Angkatan Laut A.S, pada Gerhana Matahari Total di Kepahiang, Sumatra, 1926. |
Sumber :
J. van der Bilt, dkk. 1926. "Report on the expedition to Sumatra for observing the total solar eclipse of 1926 Jan. 14th"F.B. Littell. 1926. “Naval Observatory Eclipse to Sumatera”




