![]() |
| Rajo Magek dan Raden Cetang berganti-ganti mengeluarkan kesaktiannya (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose only) |
Demikianlah kejai di Kutai Ukem itu berlangsung selama
sembilan bulan. Selama kejai tidak ada terjadi hal-hal yang akan
menggagalkannya. Tak pernah terdapat kekurangan. Bahkan bahan- bahan makanan
dan minuman berlebih-lebihan. Kelebihan nira terpaksa dibuang, yang akhirnya
menjadi sebuah anak batang air yang disebut Anak Batang Air Tuak (Bioa Tik
Tuwok). Kelebihan lemea menjadi sebuah pungguk yang sampai sekarang di sebut
Cuung Lemea. Bekas -bekas tersebut masih terdapat di daerah Marga Selupuh
Lebong sekarang.
Pada malam terakhir kejai ada orang yang hendak
menyabot perhelatan. Dengan serentak orang memadamkan lampu damar. Sedangkan
para tamu sedang bersantap. Mungkin peristiwa ini telah diatur oleh Rajo Magek
yang ingin memperlihatkan kesaktiannya kepada sang menantu. Ia telah malu
dengan kesaktian menantunya yang telah dapat mengatasi segala
rencana-rencananya.
Ketika itu gaduhlah suara orang, saling tuduh-menuduh,
siapa yang memadamkan lampu. Pada saat itu Rajo Magek mengacungkan jari
telunjuknya, maka memancarlah cahaya yang terang benderang di dalam balai,
beliau pun berkata: "Teruslah tuan-tuan bersantap".
Karena kesaktian Rajo Magek yang memancarkan sinar
dari telunjuknya laksana bintang itu, maka selanjutnya beliau digefari Rio
Bintang.
Pada hari-hari berikutnya, setelah selesai perhelatan
kejai, antara mertua dengan menantu (antara Rajo Magek dan Raden Cetang)
berganti-ganti mengeluarkan kesaktiannya masing-masing baik secara langsung
maupun cara tak langsung. Umpamanya, bila Rajo Magek mandi di hulu, sedangkan
Raden Demikianlah juga sebaliknya, bila Rajo Magek yang mandi di hilir, akan
Cetang di hilir, maka sepulang dari mandi demamlah Raden Cetang berjangkitlah
penyakit kudis pada dirinya.
Mengingat keadaan yang tak berkesudahan ini, maka Rajo
Magek berkata pada suatu hari kepada menantunya: "Nak Raden. Tidak wajar
kalau kita masih berkumpul pada satu kampung. Bukankah Raden telah mempunyai
rumahtangga yang baru? Sebelum kita mendapat celaan orang kampung, lebih baik
kita elakkan sejak sekarang. Untuk itu saya mengharapkan agar Raden sekeluarga
mencari suatu tempat yang tidak akan setepian dengan kami. Sebagai tanda bahwa
hubungan kita masih erat, bawalah segumpal tanah Kutai Ukem ini. Tanah itu
ananda letakkan di mana Ananda Raden akan menetap nanti".
Mendengar permintaan mertuanya itu, maka Raden Cetang
pun berangkatlah dari Kutai Ukem bersama isterinya Puteri Serimbang Bulan
dengan membawa segumpal tanah Kutai Ukem. Mereka menuju kepinggir danau Tes, di
ladang yang pernah didiami Raden Cetang sebelum kawin dengan Puteri Serimbang
Bulan.
Di ladangnya itulah ia meletakkan segumpal tanah Kutai
Ukem itu, yang akhirnya menjadi dusun yang diberi nama Dusun Tes. Kemudian
Dusun Tes dipindahkan dari tempat itu ke tempat Dusun Tes yang sekarang.
Kira-kira setengah kilo dari Dusun Tes ada kuburan,
sampai sekarang masih diziarahi oleh keturunan-keturunan Kutai Ukem. Pada
kuburan itu masih ada senjata pusaka Raden Cetang (Ratu Turu) yaitu sebuah
meriam. Adapun isterinya berkubur di sebuah bukit yang berseberangan dengan
kuburan Raden Cetang
Menurut cerita orang di sekitar itu (penduduk Tes),
meriam itu pernah hilang. Hal kehilangan meriam itu diberitahukan kepada seluruh
lapisan masyarakat, kalau-kalau ada yang melihat orang yang mencurinya. Tetapi
seorang pun tidak dapat menunjukkan di mana tempat dan siapa yang mencurinya.
Anehnya sesudah itu meriam tersebut telah berada kembali di tempatnya. Jadi
meriam tersebut dapat menghilang dan kembali lagi.
Bukan itu saja, bahkan seluruh senjata-senjata pusaka
peninggalan nenek moyang dahulu demikianlah sifatnya. Apalagi kalau pada suatu
cempat ada huru-hara (peperangan). Sebuah keris umpamanya akan berdering
apabila ada huru-hara. Bahkan pernah menetes darah dari dalam sarungnya.
Meriam-meriam pusaka pernah meletus dengan sendirinya. Hal ini pun
mengisyaratkan bahwa di suatu tempat telah terjadi huru-hara, atau akan terjadi
malapetaka yang lain, seperti berjangkitnya wabah penyakit yang di daerah
biasanya disebut bumal panes. Senjata-senjata pusaka dan harta-harta
peninggalan ini biasanya dipelihara oleh ahli warisnya dengan baik, di simpan
di atas loteng. Pada suatu waktu diasapi dengan asap kemenyan dan dilangir
(dilimau).
Demikian di daerah Tes karena asal mulanya didiami
oleh seorang keturunan Bermani yaitu keturunan Biku Bermano, di sebut Marga
Bermani.
Menurut tambo, di daerah Lebong terdapat empat biku,
yaitu Biku Bermano yang menyebarkan keturunannya di daerah Bermani, Biku Bembo
menyebarkan ke daerah Tapus, Biku Sepanjang Jiwo ke daerah Marga Suku VIII dan
IX, terakhir Biku Jenggo ke daerah Selupuh Lebong. Dari biku-biku ini
selanjutnya tiap-tiap dusun membagi lagi beberapa suku. Tiap kepala suku
disebut juga Kepala Kutai, yang akan menghadapi persoalan-persoalan adat pada
tiap-tiap dusun.
- TAMAT -
Sumber : Tim Penyusun Naskah CR
Bengkulu, 1979. Tambo Kejai : Beserta Lima Buah Cerita Rakyat Lainnya
dari Bengkulu. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

