![]() |
| Raden Cetang menggores pusatnya yang selebar gendang itu Lalu keluarlah dari segala macam/bentuk adat istiadat, (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose only) |
Mengingat
segala bahan telah terkumpul, Rajo Magek mengumumkan bahwa bimbang gedang akan
dimulai pada malam purnama bulan depan.
"Raden,
bagaimanakah bentuk dan corak perhelatan yang akan kita laksanakan ini? Adakah
Raden mempunyai suatu rencana?" kata Rajo Magek ketika mereka sedang
berunding untuk merencanakan acara perhelatan.
"Kejai",
jawab Raden Cetang dengan singkat.
"Apakah
Kejai itu dan bagaimana pula cara-caranya?"
"Adat
dan cara Kejai ada di Wingin culo watu, dak peak sembilan tambun, penan diwo
becelumok, duwate becelutau, nak Padang Gersik Bulan", jawab Raden Cetang
menjelaskan.
"Kalau
begitu, baiklah kita jemput adat dan cara kejai itu. Akan saya perintahkan
ananda Setio Mengar untuk mengambilnya. Tak baik ananda Raden pergi jauh.
Banyak nahas kalau sedang jadi penganten".
Demikian,
Setio Megar diutus keseberang laut untuk mengambil adat dan cara kejai. Setio
Mengar adalah anak laki-laki kedua Rajo Magek dengan Siti Rahmah.
Tiba
di Wingin culo watu, para dewa mengatakan bahwa adat dan cara kejai untuk
Bermani telah dibawa ke Mojopahit. Setio Mengar berangkat ke Mojopahit. Di
Mojopahit didapatinya penjelasan, bahwa adat dan cara kejai untuk Bermani telah
dibawa oleh Raden Cetang ke seberang laut. Entah di mana ia sekarang mereka tak
tahu.
Mendengar
penjelasan ini, kembalilah Setio Mengar ke Kutai Ukem dekat Muara Santan.
Langsung dilaporkannya kepada ayahnya, bahwa adat dan cara kejai telah dibawa
dan disimpan oleh adinda pengantin (Raden Cetang).
Rajo
Magek menyampaikan berita ini kepada Raden Cetang dan memohon agar adat dan
cara kejai itu dikeluarkan.
"Janganlah
Raden hendak menyusahkan kami juga. Bukankah perhelatan kita sudah dekat
waktunya ?"
"Kalau
begitu, baiklah", kata Raden Cetang sambil menggores pusatnya
yang selebar gendang itu dengan ujung kerisnya. Keluarlah dari dalam pusat
selebar gendang itu segala macam/bentuk adat istiadat, seperti adat semendo,
adat beleket, adat caro bekutai natet dan cara-cara kejai.
Adat
semendo adalah peraturan-peraturan tentang tata kedudukan/status seorang
laki-laki terhadap mertua. Ada beberapa macam adat semendo, yaitu semendo
rajo-rajo, semendo an (lama), semendo menangkap burung terbang semendo dari
bubung ke bubungan.
Kalau
seseorang berstatus semendo rajo-rajo misalnya, maka laki-laki itu akan tinggal
di rumah mertuanya sebagai seorang raja. Segala hasil pencahariannya mutlak
menjadi miliknya. Kalau ia meninggalkan rumah mertua, semua hak miliknya itu
boleh dibawanya.
Lain
halnya dengan semendo menangkap burung terbang. Selagi lelaki itu masih di
rumah mertuanya, boleh ia menikmati hasil pencahariannya. Tetapi kalau ia
hendak turun dari rumah itu (pulang ke rumah orang tuanya) atau dengan
perkataan lain tidak akan tinggal bersama mertuanya lagi, maka ia harus turun
dari rumah itu seperti halnya datang dulu. Ia tidak berhak membawa segala hak
milik yang diperolehnya selama di rumah mertuanya itu.
Adat
beleket ialah seorang perempuan setelah kawin harus mengikuti suaminya.
Pelaksanaannya seolah-olah sang perempuan dijual oleh saudaranya yang
laki-laki. Jangankan pulang, menghadap muka ke rumah orang tuanya pun tidak
boleh. Perempuan itu tidak berhak lagi menerima hak waris dari pihak orang
tuanya.
Dengan
lahirnya adat dan cara kejai itu, resmilah permulaan dan pembukaan kejai
pertama dalam daerah suku Rejang. Menurut cara yang lelaki dan penari perempuan
tidak boleh semarga. Satu marga berarti ditetapkan, kesenian kejai diiringi
dengan gong kelintang dan dep. Penari satu keturunan biku.
Di
daerah Lebong umpamanya, dibagi atas empat marga. Tapi untuk adat kejai yang
diakui hanya tiga bahagian marga. Yaitu pertama Marga Bermani Juru Kalang, yang
asalnya dahulu terjadi dari dua biku, kedua Marga Suku VIII/Suku IX dan ketiga
Marga Selupuh Lebong. Namun demikian, kalau ada tamu yang akan menari datang
dari luar daerah Lebong ini, maka marga yang ketiga itu tidak boleh saling
berhadapan lagi.
Jumlah
penari tidak terbatas. Bergantung kepada luasnya balai. Jumlah penari lelaki
dan perempuan tidak harus sama banyaknya. Posisi penari berbaris lurus,
berhadap-hadapan, dibatasi dengan kayu penyukung (garis tengah balai), sebuah
tiang tengah balai.
Pada
tiang tengah balai itu diikatkan bermacam-macam benda upacara, seperti tombak
betepang, keris pendok, pedang, sirih pinang dengan gagangnya, tebu dan
lain-lain.
Sebelum
menari, penari lelaki minta izin kepada tua bujang, penari perempuan kepada tua
gadis, dan menanyakan apakah ia boleh menari atau tidak. Kalau tidak ada
hubungan keturunan tentu dibolehkan. Setelah diberi izin masuklah mereka ke
balai dan mulailah mereka menari.
Gerakan
yang pertama adalah menyembah kepada inang bati. Kemudian diteruskan dengan
menari. Penari lelaki mengayunkan tangan dari samping kanan, kemudian menyusun
jari di depan perut sebelah kiri. Sedangkan penari perempuan memegang setang,
yaitu selendang yang diampaikan di punggung.
Ketika
penari lelaki mengayunkan (menadahkan tangan) setinggi bahu, penari perempuan
mengikutinya dan tak lama kemudian kembali memegang setang.
Setelah
beberapa lama mundur maju, lalu bertukar tempat. Ketika melewati sukung,
masing-masing penari mematah dayung.
Pada
pertengahan menari, hampir pada pertukaran tempat yang kedua, tiba-tiba semua
alat bunyi-bunyian dihentikan, penari pun duduk bersimpuh karena akan diadakan
sambei andak, yaitu semacam pantun yang bersahut-sahutan. Isi sambei
menceritakan suka duka penghidupan di dunia.
Setelah
bersahut-sahutan kira-kira dua atau tiga kali, gong kelintang berbunyi lagi dan
menari pun diteruskan.
Tidak
setiap menari diadakan sambei andak. Biasanya apabila akan dilaksanakan sambei
andak ini lebih dahulu ada persetujuan antara kedua pihak penari. Sebelum menari
diumumkan, bahwa dalam tarian yang akan berlangsung itu ada sambel andak.
Maka
bersiap-siaplah para petugas peralatan menyediakan tikar, pesanggen (sebangsa
baki buah-buahan), lengkap dengan sirih sekapurnya, dan sebuah kipas untuk tiap
pasangan yang akan digunakan untuk penutup muka ketika menyambei nanti.
Kadang-kadang
sambei itu dilanjutkan dengan serambak, yang isinya tentang tambo atau
silsilah. Acara serambak ini sering mengakibatkan salah satu pihak tidak dapat
menjawab. Hal yang demikian itu dianggap kalah.
Pada
hari yang ketiga atau keempat, turunlah anok sangai. Menurunkan anok sangai
dari rumah kediamannya ke balai diiringi dengan kelintang acak, yaitu gong
kelintang yang dibunyikan sambil berjalan. Arakan ini dikawali oleh beberapa
orang pengawal dengan bersenjata pedang dan keris terhunus.
Jalan
yang akan dilalui oleh anok sangai harus ditutup dengan tikar permadani atau
yang sejenis dengan itu. Anok sangai akan berhadapan menari dengan salah
seorang tamu yang dianggap sepadan, umpamanya anak pangeran, atau anak orang
ternama lainnya.
Anok
sangai boleh diartikan anak yang disayangi (mungkin inilah asal katanya). Sebab
dikatakan demikian, karena pelayanan terhadap anok sangai sangat diutamakan.
Apalagi anok sangai yang datang dari marga lain (tamu). Anok sangai beserta
inang batin, tua bujang dan tua gadisnya dijamin oleh pelaksana kejai baik
makanan maupun keselamatannya.
Apabila
para tamu menginap di suatu ramah penduduk, maka tamu itu dijemput oleh bujang
gadis, dari dusun yang mengadakan kejai. Penjemputan itu lengkap dengan sirih
pinangnya (iben penaok = sirih penyapa).
Penjemput mengunjukkan sirih penyapa dan mulailah
menyerambak:
"Ade iben kembuk ba iben,
Iben ade depicik nik, pinang ade depiok
alus,
Temotoa adat istiadat, bekutai benatet,
bekorong bebekapung,
Lamen ade mendeak besimeak
Su ang beduai buliak nadeak, pat belemo
buliak mbilang mun juak
Iben ngen pinang.
Adat ati ade da kelabua, rian ati ade da
kelomon,
adát gimasiak nakei, rian gimasiak
tenunggau,
Tapi sayup na ba kute, sep na ba sado.
Coa kulo sayup magea rambok bilang, coa
kulo sep magea rambok kecek,
Sayup na magea mas pitis, sep na magea rto
bendo.
Tebito kundei luca rureak, tebakar kundei
luea kuto,
Ade mendeak besimeak lok temarap uleak
penyuseak,
Mako munjuak iben pinang, iben penaok,
Tando arok tando suko.
Mujua magea keme, malang mage kumu o
".
Terjemahannya :
"Ada sirih makanlah
sirih,
Sirih ada secarik kecil, pinang ada
sekikis halus,
Menurut adat istiadat, berkutai berkampung
halaman,
Jika ada tamu datang.
Seorang atau berdua boleh dikata, empat
berlima boleh dibilang,
Mengunjukkan sirih dengan pinang.
Adat belum ada yang samar/hilang, belum
juga ada yang tercemar,
Adat masih dipakai, juga masih ditaati,
Tetapi semuanya segala berkurang.
Tidak pula kekurangan pada tutur bahasa,
Kurangnya pada mas dan uang, harta benda.
Terberita dari luar lurah, terkabar dari
luar kampung,
Ada tamu yang akan menyertai perhelatan
Makanya diunjuk sirih pinang, sirih
penyapa,
Tanda harap dan tanda suka.
Mujur (bergembiralah) kami, sungguh malang
bagi kalian."
Selesai
si penjemput berserambak maka dijawablah oleh tamu dengan serambaknya pula.
Biasanya
serambak ini bersahut-sahutan, saling mengeluarkan kepandaiannya menyerambak.
Serambak itu kadang-kadang diselingi dengan teka-teki dan permintaan-permintaan
yang diucapkan dengan serambak berupa ibarat, sehingga tidak jarang salah satu
pihak tidak dapat mengartikannya, sehingga para tamu yang dijemput belum
berkenan pergi ke balai kejai.
Melihat
hari telah petang, sedangkan penjemput belum juga pulang, maka pergilah orang
yang dianggap cakap untuk menyongsong, karena orang telah tahu bahwa penjemput
yang tadi telah terdesak kata.
Karena
bantuan penyongsong tadi, maka terdapatlah kata sepakat dan tamu pun berkenan untuk
pergi ke balai kejai untuk menari.
Selain
sambei andak yang dilakukan pada pertengahan menari, ada lagi sambil yang
dilakukan pada malam akhir kejai. Sambei itu bernama sambei gandei. Kalau pada
sambei andak isinya hanya beriba-iba tentang kehidupan di dunia, maka sambei
gandei adalah berisi tentang riwayat dan tambo, yang diselingi dengan
pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menguji lawan. Apabila seseorang terdesak
jawaban, maka dibantulah oleh orang di belakangnya. Bantuan ini kadang-kadang
hanya dengan berbisik-bisik, kadang-kadang dengan suara keras. Pihak yang lain
tidak mengetahuinya, karena lawannya menyambei tadi masih menutup muka dengan
kipas. Masih disangkanya yang itu jugalah yang menjawab sambeinya itu.
Apabila
sambei selesai dengan kata sepakat, maka diadakanlah acara mengisi buluh lemang
yang dilakukan oleh bujang gadis. Tetapi bila sambei gandei tidak mendapat kata
sepakat, maka tuan rumah (yang mendirikan kejai) didenda dengan
menunda-penutupan kejai tiga hari lagi.
Demikianlah
pelaksanaannya, masing-masing harus tunduk kepada adat istiadat. Siapa yang
merasa dirinya kalah harus/mungkin didenda.
Kesalahan-kesalahan
yang dilakukan oleh para peserta didenda dengan sepasang punjung, yaitu
sepiring punjung ketan (serawo) dan sepiring punjung nasi yang ditumpukkan pada
piring seperti setengah bola, atau diganti dengan uang empat rupiah (maksudnya
rupiah emas).

