header ads

L.C. Westenenk: Kisah Residen Belanda dan Asal Usul Nama Hutan Konak Kepahiang


Hutan Konak Terletak di Pasar Ujung, Jalan Lintas Kepahiang - Pagar Alam (Foto/ilus: Rubo)


Saat melintasi Jalan Lintas Kepahiang - Pagar Alam, tepatnya  di Kelurahan Pasar Ujung, Kepahiang, Bengkulu, Kita akan menjumpai kawasan Hutan yang dikenal dengan nama Hutan Konak. 

Hutan Konak ini menjadi anomali dalam cerita lintas generasi. Alih-alih dikenang karena fakta historisnya. Hutan Konak lebih sering dikaitkan dengan cerita-cerita mistis.

Dahulu masyarakat akan berpikir dua kali apabila akan melintasi kawasan konak selepas Maghrib. Berpuluh tahun, berbagai kisah horor selalu terselip dalam kisah kawasan Hutan Konak ini. Misalnya, pernah suatu ketika, ada yang mengaku melihat penampakan “mahluk” di atas salah satu pohon. Lain waktu, ada pula yang berkisah melihat darah mengucur dari dahan pohon. 

Sebagian kita mungkin sering bertanya, kenapa sebab musabab bernama “Konak”? 

Padahal Konak dalam bahasa Indonesia tentunya berkonotasi negatif. Tak dapat pula, kita temukan “Konak” dalam bahasa yang dipakai kebanyakan masyarakat Kepahiang, entah itu Rejang ataupun Melayu Bengkulu. 

Secara historis, asal muasal kawasan ini bernama Konak berawal dari sebuah kawasan tempat peristirahatan salah satu pejabat kolonial Belanda yang populer di Hindia Belanda saat itu (Indonesia sekarang), Louis Constant Westenenk. Westenenk pernah menjabat Residen Bengkulu pada rentang 1915 - 1920.

Bagi Sang Residen, Konak bukan sekedar rumah singgah atau villa. Konak adalah sebuah tempat impian; sebuah rumah sejuk dengan taman tropis berisi tanaman cantik dan koleksi Anggrek, tak lupa pula sebuah kebun binatang mini (mageire) berisi koleksi hewan menarik dan langka. 

L.C. Westenenk, Residen Bengkulu 1915-1920 (Foto: A. J. Gazendam / wikipedia)   

L.C. Westenenk,  Karir dan Hobinya.

Westenenk dilahirkan pada 3 Februari 1872, di daerah penawangan (Afdeeling Demak, Residentie Semarang). Westenenk adalah anak keempat dari pemilik perkebunan kopi, Jan Constantijn Westenenk dan Frangoise Josephine Emilie Louise Wardenaar.

Pada tahun 1879, ketika Westenenk baru berusia tujuh tahun, ayahnya mengirim Westenenk dan dua saudaranya - Marie dan Gerhard - ke Belanda. Mereka dititipkan kepada bibi mereka, di kota Deventer, Belanda. Westenenk muda adalah anak yang kuat, cepat, dan penuh energi. Ia aktif di berbagai bidang olahraga (kriket, senam, renang, seluncur es, dan dayung). Ia juga berbakat di bidang sastra dengan beberapa tulisan dimuat di majalah dan memenangkan perhargaan.  

Hal ini terbukti, Ia berhasil lulus dalam waktu singkat untuk fakultas Indologi pada Indische Instelling (Institusi Hindia) di Delft. Pada tahun 1892, ia lulus ujian pegawai tinggi (groot-ambtenaars-examen) dan penempatan pertamanya adalah sebagai pembatu kontrolir, di  Bandung Utara, Karesidenan Priangan. Ia bertugasnya mengolah administrasi dan  berbagai laporan. Bagi seorang muda yang ambisius dan penuh energi, tentunya ini adalah tugas yang membosankan.

Barulah saat ditugaskan Westerafdeeling van Borneo (Keresidenan Kalimantan Barat) pada 1893, Westenenk  menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passionnya.  Ia ditempatkan di Afdeeling Tajan, sebuah pos terpencil di tepian Sungai Kapuas. Di sana, ia mulai mengoleksi berbagai tanaman tropis, terutama anggrek hutan, juga memelihara berbagai hewan. Selama masa ini pula, Westenenk mengumpulkan banyak informasi tentang masyarakat Dayak dan membuat catatan etnografis. Dari minatnya terhadap dongeng dan fabel hewan masyarakat setempat, lahirlah karyanya yang berjudul "Bijdragen tot de kennis der folklore van West-Borneo".

Loncatan terbesar dalam karir Westenenk di Kalimantan adalah di tahun 1896. Ia berhasil menumpas Pemberontakan Melawi, yang dipimpin Raden Paku Jaya, seorang pemimpin Dayak yang disegani. Untuk itu ia dianugerahi penghargaan Militaire Willems-Orde.

Pada 1897, Westenenk mempersunting Adriana Nering Bogel. Setahun kemudian, pada tahun 1898, Westenenk dipromosikan menjadi kontrolir di Sawahlunto, Sumatera Barat.  Lalu menjadi kontrolir di beberapa wilayah Aceh pada rentang tahun 1900 hingga 1902.  Pada tahun 1903, Westenenk ditugaskan kembali di Sumatera Barat sebagai kontrolir Agam Lama. Setelah itu pada 1909, Westenenk dipromosikan menjadi Asisten Residen Tanah Datar dan berkantor di Fort van der Capellen, Batu Sangkar. 

Petualangan Turki, Gossel dan Konak Pertama

Dalam perjalanan karirnya, ada sebuah petualangan karir yang singkat namun luar biasa. Westenenk sempat ditawari untuk menjadi Inspektur Jendral di Anatolia dan Armenia, Turki Utsmani. Karir ini terbilang sangat singkat, hanya lima bulan saja. Ia tiba di Konstatinopel pada bulan April 1914. Sayangnya, gejolak Perang Dunia Pertama mengharuskan rencana-rencana reformasinya di Armenia dihentikan. Pada September 1914, Westenenk meninggalkan Turki dan kembali ke Belanda.

“Petualangan Turki” - demikian Westenenk menyebutnya - memang tergolong sangat singkat. Namun, menguntungkan secara finansial, Westenenk mampu membeli 12 hektar tanah di Gorssel, di provinsi Gelderland, bagian timur Belanda. Sebuah desa yang terkenal karena keindahan alamnya. 

Rumah yang dibangun Westenenk di Konak, Kepahiang (Foto: KITLV)


Di Gossel, Westenenk berencana membangun sebuah rumah megah lengkap yang dikelilingi lahan pertanian. Ia memberi nama tempat peristirahatannya tersebut dengan nama Turki, "Konak", yang berarti “tempat peristirahatan” atau "istana kesenangan". Ia juga sudah menyerahkan pembangunannya pada Nederlandsche Heidemaatschappij (sebuah konsultan kontraktor). Setelah pensiun, ia berangan-angan akan menikmati hidup sambil mengembangkan pertanian dan menjadi tuan tanah. 

Sayangnya rencana-rencana itu untuk sementara harus tertunda. Pada tanggal 21 Mei 1915, Gubernur Jenderal Hindia mengangkatnya menjadi Residen Bengkulu. Ia pun bekerja kembali ke Hindia Belanda.

Westenenk; Residen Bengkulu dan Konak Kedua

Bersama istri dan putri bungsunya, ia berangkat dari Belanda pada tanggal 26 Juni 1915. Kedatangannya di pelabuhan Bengkulu tanggal 2 Agustus, ditandai dengan tragedi. Upacara penyambutan telah disiapkan di Pelabuhan. Para gadis sudah bersiap untuk tarian penyambutan. Sayangnya laut tidak bersahabat, ombak terlalu tinggi. Awalnya Kapten kapal menolak untuk menurunkan jangkar. Tapi Westenenk bersikeras. Maka didatangkanlah perahu kecil dari Pelabuhan. Sambil memeluk putri bungsunya, Westenenk berhasil  melompat ke perahu. Malang bagi Nyonya Westenenk, ia nyaris terjatuh ke laut. Meski sempat dipegangi oleh Westenenk, tapi mata kirinya berdarah karena menghantam penyangga besi tiang atap perahu.

Setelah mengantarkan Westenenk sekeluarga ke Pelabuhan, Perahu kecil itu kembali ke kapal menjemput para pelayan dan barang bawaan. Malang kedua kali, perahu itu terbalik. Salah satu pelayan mereka, terjatuh dan tewas tenggelam. Semua perayaan penyambutan dibatalkan, karena dalam suasana duka. 

Karena tragedi itu, sebagian orang khawatir bahwa kepemimpinan residen baru ini tampaknya akan ditimpa kesulitan dan kesialan. Untungnya, pada malam berikutnya turun hujan, padahal sudah satu bulan panas dan kekeringan, Ini membawa kelegaan dan dipercaya menjadi pertanda baik bagi era kepemimpinan Residen L.C. Westenenk di Bengkulu.

Dan nyatanya, selama masa jabatannya 1915-1920, Bengkulu mengalami banyak peningkatan mulai dari sarana transportasi, produk impor dan ekspor, juga kuli kontrak. Beberapa rencana ambisius juga sudah ia siapkan untuk Bengkulu. Sebut saja restorasi pelabuhan peninggalan Inggris di teluk Selebar, hingga pembuatan terowongan menebus pegunungan Barisan, sehingga aliran sungai Musi dari Curup dapat dimanfaatkan untuk Pabrik Pupuk. Beberapa dekade kemudian, "Rencana Sungai Musi” tersebut menjadi PLTA Ujang Mas yang kita kenal sekarang. 

Tampak Belakang Rumah yang dibangun Westenenk di Konak, Kepahiang (Foto: KITLV)

Pada masa jabatan Westenenk sebagai Residen Bengkulu, terselip kisah tentang Konak. Kita tentu ingat hutan di dekat Gorssel yang telah ia beli sebelumnya, yang telah diserahkan kepada Nederlandsche Heidemaatschappij untuk dijadikan perkebunan yang indah.

Westenenk tidak membatasi diri pada satu "tempat peristirahatan" saja. Kebetulan Nyonya Westenenk tidak tahan cuaca yang panas di Kota Bengkulu. Di jalan dari Kepahiang menuju Muara Enim, sang Residen menemukan sebidang tanah yang cocok untuk tempat peristirahatan. Lahan ini kemudian dimintanya dengan sistem hak guna usaha (erfpacht). Dan lokasi itulah Konak yang kita kenal sekarang. Dari analisa, kemungkinan rumah tersebut berdiri di sekitaran Kantor Camat Kepahiang atau Kantor BMKG Kepahiang saat ini.

Pemandangan dari Depan Rumah Westenenk. Tampak Beberapa Ekor Sapi dengan Latar Belakang Bukit Kaba (Foto: KITLV)

Cuacanya sejuk dan berada di ketinggian 500 meter dari permukaan laut. Di Konak, ia membangun sebuah rumah kayu. Sedikit catatan, kayu yang dipakai berasal dari bangunan yang hancur pada gempa bumi besar yang melanda Bengkulu pada tahun 1914. 

Ia menamai tempat peristirahatan tersebut seperti di Gorssel: "Konak”. Sahabat karib Westenenk, H.T. Damsté, dalam buku Biografi L.C. Westenenk (1933) menulis gambaran tentang Konak :

Bersama istri dan putrinya, ia merintis jalan setapak melalui hutan, jalan setapak menuju tempat-tempat dari mana panorama yang indah dapat dinikmati. Di samping rumah, ia menebang hutan karet untuk menciptakan lahan penggembalaan bagi dua puluh ekor sapi Belanda dan Benggala. Namun, pepohonan yang indah tetap dibiarkan berdiri dan dilengkapi dengan papan nama seperti di taman botani yang sebenarnya, dan juga dari koleksi anggrek yang luas, semua spesimen didaftarkan dengan catatan mengenai detail spesifik terkait perbungaan dan pertumbuhannya. Sebuah tempat pemandian ditemukan, di mana aliran air pegunungan yang jernih jatuh ke sungai di bawahnya. 

Kemudian dijelaskan oleh Damste, ada pula sangkar burung (semacam aviari) yang berisi berbagai macam burung: burung enggang, berbagai jenis burung beo, merpati dan lainnya. Di tempat lain, ia menampung kancil kelinci, marmut, tupai, salamander, katak raksasa, kepiting laut, dan masih banyak lagi. Sementara di pekarangan rumah ada ayam, angsa, bebek, kambing, dan kuda yang berkeliaran. Bahkan binatang-binatang yang tidak biasa: tapir, trenggiling, rakun, siamang, musang, simpai, seekor babi jinak, tupai. Terdapat juga sebuah "kawasan perburuan" (jachtboom), untuk menyalurkan hobi berburunya. 

Westenenk Memiliki Hobi Berburu (Foto: KITLV)

Setelah suasana relatif damai, anak-anak Westenenk sempat datang ke Bengkulu pada awal 1919. Konak pun sempat menjadi “surga" bagi keluarga itu. Hari-hari paling bahagia pernah dialami keluarga Westenenk di Konak. 

Sayangnya, saat tiba waktu anak-anak mereka (termasuk anak paling bungsu) harus kembali ke Belanda, Konak pun kembali sepi. Saat ditawari posisi sebagai residen Palembang pada tahun 1920, Westenenk menerima.  Dan demikianlah kisah “Konak Kepahiang” diakhiri.

Keempat Anak Sang Residen Datang Berlibur ke Konak, Kepahiang (Foto: KITLV)

Karirnya dan petualangan hidup Westenenk masih terus berlanjut, hingga ia meninggal pada 2 Mei 1930. Westenenk mengalami komplikasi dan penyumbatan pembuluh darah yang menyebabkan serangan jantung. Ia meninggal pada di usia 58 tahun.Meskipun saat ini tidak lagi ditemukan sisa peninggalan Konak. Tapi banyak kisah  tentang Konak dan perjalan hidup L.C. Westenenk yang bisa kita ambil hikmahnya. 

Westenenk meninggal sebagai seorang yang belum pernah berhenti bekerja, belajar, dan bermimpi. Dari anak laki-laki energik di Deventer hingga pejabat pemerintah yang terkenal di Hindia Belanda, dari petualang di Borneo hingga reformer di Sumatra, dari tentara yang berani hingga negosiator diplomatik di Turki, Hidup Westenenk selalu penuh dengan perjuangan dan tujuan. Disela-sela perjuangan, kita butuh tempat peristirahatan. Dan bagi Westenenk, Konak adalah tempat peristirahatannya. (de)

Catatan:  Beberapa foto melewati proses "Detailing dan Colorized". Dimaksudkan untuk "User Experience" atau pengalaman membaca yang lebih baik.

Diolah dari beberapa sumber :
Damste, H.T., 1933. Levensbericht van Louis Constant Westenenk (3 Februari 1872-2 Mei 1930).
Damste, H.T., 1933. Levensbericht  dalam Jaarboek van de Nederlandse Maatschappij der Letterkunde. 
“Pergerakan kemerdekaan bangsa Armenia”. 2022. https://en.wikipedia.org/wiki/ Armenian_national_movement. Diakses pada 02 Agustus 2023.


Tim Rubo

berkumpul karena memiliki minat yang sama; meneliti, mengkaji dan menyebarluaskan Warisan Sejarah & Budaya

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال