| foto (dok.pribadi) |
Bengkulu merupakan sebuah wilayah yang dulunya menjadi daerah yang statusnya keresidenan di bawah Sumatera Selatan. Secara Sosio-antropologi, masyarakat Bengkulu mengalami interaksi sosial dari akar budaya Sumatera Selatan yang tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan. Meski Bengkulu resmi memisahkan diri dari Sumsel dan menjadi provinsi sendiri pada tahun 1968, tidak serta merta mengubah kebiasaan atau tradisi yang sudah mengakar kuat.
Secara geografis dan historis, Bengkulu dan Sumsel memiliki pertalian sejarah masa lampau yang membuat batas administratif tidak mampu membendung laju asimilasi budaya. Misalnya, ketika hari Raya Idul Fitri, setiap makanan yang tersaji di dominasi oleh makanan khas daerah Sumatera Selatan. Dari makanan yang tersaji di moment tersebut bisa dilihat betapa makanan/kuliner merupakan salah satu medium paling adaptif dalam proses pelestarian budaya. Masuknya kue-kue tradisional Sumatera Selatan ke Bengkulu serta adaptasinya hingga menjadi "hidangan wajib" Lebaran menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat tentang perayaan dan kehormatan sering kali diterjemahkan melalui bahasa rasa yang sama. Sehingga, perayaan Idul Fitri ini bukan sekedar perayaan kemenangan spiritual saja, melainkan sebuah etalase budaya yang hidup.
Di Provinsi Bengkulu, perayaan Idul Fitri tahun 2026 masih didominasi tiga kudapan manis yang merajai meja saji Idul Fitri. Seperti Lapis Legit, Maksuba/Masoba, dan Engkak Ketan. Kehadiran ketiga kudapan manis ini yang menempati posisi teratas di meja-meja tetamu masyarakat Bengkulu bukanlah sekadar tren kuliner sesaat. Ini adalah produk budaya yang merekam jejak panjang akulturasi budaya, transmisi nilai sosial, dan eratnya pertalian sejarah antara Bumi Rafflesia dengan Bumi Sriwijaya.
Tidak hanya sekedar tiga makanan manis yang menjadi primadona lintas batas. Namun, ketiga makanan manis tersebut memiliki pijakan filosofis yang kuat pada masing masing jenisnya. Misalnya;
- Lapis Legit - Lapisan Kesabaran dan Kemakmuran: Meski memiliki akar pengaruh kolonial Belanda (Spekkoek), Lapis Legit telah diadopsi dan dimodifikasi secara lokal menjadi sajian mewah. Proses pembuatannya yang mengharuskan pemanggangan selapis demi selapis menuntut ketelitian, fokus, dan kesabaran ekstra. Kue ini merepresentasikan harapan akan rezeki yang berlapis-lapis dan keberhasilan yang dicapai melalui ketekunan.
- Masoba (Maksuba) - Simbol Penghormatan Tertinggi: Dalam tradisi asalnya (Kesultanan Palembang), Maksuba adalah kue yang disajikan khusus untuk tamu agung, raja-raja, atau tetua adat. Terbuat dari puluhan butir telur dan susu, kue ini melambangkan penghormatan dan rasa syukur. Hadirnya Masoba sebagai suguhan utama di Bengkulu menunjukkan tingginya adab masyarakat lokal dalam memuliakan tamu di hari raya.
- Engkak Ketan - Filosofi Kekerabatan yang Erat: Terbuat dari tepung ketan yang lengket dan santan kental, Engkak memiliki tekstur kenyal dan tahan lama. Secara filosofis, tekstur ketan yang lengket ini sering dimaknai sebagai simbol eratnya tali silaturahmi dan persaudaraan. Ini sangat selaras dengan esensi Idul Fitri, yakni memperkuat ikatan sosial yang mungkin merenggang akibat kesibukan.
Fenomena memuncaknya popularitas ketiga kue ini di Bengkulu pada tahun 2026 juga mencerminkan sebuah transmisi budaya yang berhasil. Proses Pembuatan Masoba, Engkak, dan Lapis Legit ini tergolong tidak mudah. Proses ini membutuhkan metodologi, kebiasaan, dan kesabaran. Sehingga menjadi sebuah bentuk ritual atau pembelajaran kultural mendalam (observasi dan praktik) yang diwariskan antar generasi.
Ketika masyarakat Bengkulu secara konsisten memilih untuk menghidangkan serta memproduksi sendiri kue-kue ini, mereka sedang mempraktikkan pelestarian kearifan lokal. Mereka tidak sekadar mengonsumsi makanan, tetapi mereproduksi narasi sejarah, status sosial, dan nilai-nilai luhur seperti empati dan dedikasi untuk membahagiakan orang lain (tamu).
Meja lebaran Idul Fitri menjadi bukti sebuah identitas budaya yang fleksible. Dominasi lapis Legit, Maksuba dan Engkak Ketan menggarisbawahi bagaimana pengaruh budaya Sumatera Selatan telah terintegrasi secara harmonis ke dalam ritus sosial masyarakat Bengkulu. Lebih dari sekadar pemuas selera, ketiga kue ini adalah medium perekat persaudaraan dan penjaga warisan nilai-nilai tradisional yang terus relevan melintasi zaman.
