![]() |
| Dokumen pekerja perkebunan teh di Kepahiang 1934 (Dok. Dewa Syofiani) |
Saat ini, istilah manuskrip sudah tidak asing lagi di kehidupan sehari-hari. Seringkali, ketika kita mendengar kata “manuskrip” yang terbayang adalah naskah kuno yang ditulis pada daun lontar, kulit kayu, bambu dan penggunaan media penulisan lain yang biasanya tidak biasa di kehidupan kita saat ini. Selain itu, penggunaan aksara juga menentukan sebuah tulisan disebut manuskrip. Misalnya penggunaan aksara Pallava, Kawi, Arab Melayu, dan Aksara Ulu yang notabene sulit dibaca. Stereotip ini muncul karena kita terbiasa mengaitkan manuskrip dengan sesuatu yang purba dan sedikit berbau sakral.
Anggapan salah kaprah tersebut, perlu kita luruskan bersama. Manuskrip tidak dibatasi dengan bentuk aksaranya. Surat-surat penting, buku harian, bahkan coretan draf beraksara latin bisa dikatakan manuskrip juga. Misal, surat-surat dari zaman kolonial yang ditulis oleh pejabat Belanda, bansawan lokal atau para pejuang kemerdekaan juga merupakan manuskrip yang memiliki nilai-nilai sejarah yang tinggi.
Dalam KBBI, manuskrip bearti sebuah naskah yang ditulis tangan (dengan pena atau pensil) maupun ketikan (bukan cetakan). Secara etimologi, kata manuskrip berasal dari bahasa latin yaitu “manu” (tangan) dan “scriptus” (ditulis). Jadi, definisi paling dasar dari manuskrip adalah segala jenis dokumen yang ditulis dengan tangan, bukan dicetak dengan mesin atau diketik. Sebuah naskah tulisan tangan asli, bisa dikatakan manuskrip jika sudah berumur minimal 50 tahun dan memiliki arti penting bagi peradaban, sejarah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Sebagai peninggalan masa lampau, manuskrip mampu memberi informasi mengenai berbagai aspek kehidupan masyarakat masa lampau seperti politik, ekonomi, sosial budaya, pengobatan tradisional, tabir gempa atau gejala alam, fisikologi manusia, dan sebagainya.
Lahirnya manuskrip berhubungan erat dengan munculnya kecakapan tulis-baca di kalangan masyarakat. Kelahiran kecakapan tulis-baca bertalian erat dengan munculnya aksara sebagai lambang suara yang dikeluarkan oleh manusia. Suara manusia itu yang kemudian disebut bahasa (lisan) merupakan alat komunikasi sosial di antara sesama mereka. Ketika bangsa Eropa membawa aksara Alphabet (Latin) ke Nusantara, masyarakat kita mulai perlahan mengadopsi sistem tulisan ini. Jadi, walaupun dokumen tersebut menggunakan aksara daerah, aksara pra-Islam, maupun huruf latin modern, selama dokumen tersebut diproduksi lewat goresan tangan langsung statusnya tetap sebuah manuskrip.
Untuk melihat betapa pentingnya manuskrip beraksara latin ini, kita bisa mengingat beberapa artefak sejarah yang familiar bagi kita misalnya:
• Surat-Surat Raden Ajeng Kartini yang ditulis tangan oleh Kartini kepada teman-teman penanya di Belanda (Estella Zeehandelaar) yang menggunakan bahasa Belanda dan aksara Latin. Lembaran kertas ini merupakan sebuah manuskrip intelektual yang menjadi fondasi awal gerakan emansipasi perempuan di Indonesia.
• Teks Proklamasi Indonesia yang berupa draf proklamasi yang ditulis tangan oleh Bung Karno pada secraik kertas bergaris dengan coretan perbaikan di sana-sini adalah salah satu manuskrip beraksara latin paling suci bagi bangsa ini. Teks ini merekam detik-detik paling genting sebelum diketik ulang oleh Sayuti Melik.
• Buku Harian dan Logbook Kolonial yang berupa catatan harian lapangan milik perwira Belanda, laporan perjalanan penjelajah Eropa, atau catatan administrasi perkebunan di Sumatera abad ke-19 yang ditulis tangan.
Kelebihan tulisan tangan pada manuskrip adalah mampu merekam kondisi psikologis penulisnya. Dengan demikian, manuskrip banyak merekam fase transisi yang sangat menarik untuk sejarah bangsa kita. Kita bisa melihat bagaimana para tokoh bangsa atau pujangga keraton mulai bereksperimen memadukan bahasa daerah seperti Jawa atau Melayu tapi menuliskanya menggunakan huruf latin. Ini adalah bukti perubahan cara berpikir masyarakat kita menuju era modern.
Manuskrip bukan cuma soal mantra-mantra kuno di atas daun lontar. Lembaran kertas beraksara Latin peninggalan kakek buyut kita, surat-surat pejuang di masa pergerakan, atau catatan harian zaman kompeni adalah manuskrip berharga yang harus dirawat, digitalisasi, dan dipelajari dengan rasa hormat yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
- Gottschalk, Louis.1981. Understanding History: A Primary of Historical Method (trj) Nugroho Notosusanto, Jakarta: Universitas Indonesia Press.
- Hamid hasan.1985. Pengajaran Sejarah antara harapan dan kenyataan. Makalah. Seminar Sejarah Nasional di Yogyakarta.

