![]() |
| Walau terlihat bodoh, Raden Cetang memiliki watak dan kecerdasan yang luar biasa (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose) |
Di zaman Mojopahit, adalah seorang raja
yang sudah tua, mempunyai tujuh orang anak. Ketujuh anak itu laki-laki
semuanya. Yang bungsu bernama Raden Cetang.
Suatu ketika, Raja mengumpulkan ketujuh
anaknya untuk meninggalkan wasiat. Wasiat raja itu ialah jika ia telah wafat
kelak, penggantinya yang memegang pemerintahan adalah anaknya yang bungsu
bernama Raden Cetang.
Raden Cetang adalah anak yang luar
biasa. Bila dilihat sifatnya, ia adalah seorang yang pemalas. Bentuk badannya
buruk, pendek, telinga selebar teleng (penampi beras), pusat selebar gendang.
Tiap hari kerjanya selain melamun, ia itu penidur. Oleh sebab itu
saudara-saudaranya mengejeknya dengan gelar Ratu Turu.
Saudara-saudaranya yang berenam sangat
benci kepadanya. Apalagi setelah mereka tahu bahwa Raden Cetang ini akan
menggantikan ayahnya menjadi raja pada kerajaan Mojopahit. Mereka berusaha
untuk melenyapkan Raden Cetang dari kerajaan Mojopahit. Bahkan mereka pernah
merencanakan untuk membunuhnya. Mereka berpendapat bahwa di antara saudara-saudaranya
yang berenam inilah yang patut menjadi raja.
Raden Cetang, walaupun kelihatannya
seperti orang bodoh itu, sebenarnya memiliki watak dan kecerdasan yang luar
biasa. Ia dapat memaklumi isi hati saudara-saudaranya. Perasaan dengki dan niat
jahat saudara-saudaranya ini diketahuinya juga.
Ketika saudara-saudaranya sedang
berkumpul, Raden Cetang meminta izin kepada mereka untuk pergi berdarmawisata
keluar kota.
Pernyataan ini disambut baik oleh
saudara-saudaranya, karena dengan bepergian seorang diri ini mungkin Raden
Cetang tidak akan kembali lagi.
Dengan menyandang busur lengkap dengan
anak panahnya, berangkatlah ia memudiki sebuah sungai yang bernama Sungai Bado.
Di kiri-kanan sungai itu hutan semak yang tidak terlalu lebat.
Sepanjang perjalanan tak pernah ia
menemui burung untuk dijadikan sasaran anak panahnya. Makin ke hulu hutan itu
sangat indah. Sejauh mata memandang belukar itu ditumbuhi oleh beraneka macam
bunga-bungaan. Seolah-olah sebuah taman yang dipelihara oleh bidadari dari
kahyangan.
Dalam keterlenaan mengagumi taman yang
indah itu, Raden Cetang terkejut mendengar suara yang aneh. Suara itu seperti
ada beberapa orang yang sedang memperbincangkan sesuatu. Kadang-kadang
diselingi dengan tawa riang.
Pada mulanya Raden Cetang merasa takut.
Apakah ia salah dengar. Mungkinkah di dalam hutan ini ada manusia ? Ia mulai
berjalan dengan mengendap-ngendap. Dicarinya arab dari mana datangnya suara
itu. Ia berhenti dengan tiba-tiba setelah melihat tidak jauh dari
tempat persembunyiaannya ada suatu tempat yang terang benderang.
Tidak salah penglihatannya. Di atas
sebatang pohon beringin yang tumbuh di antara batu-batu besar, beberapa orang
dewa dan bidadari sedang duduk pada dahan beringin dan bermusyawarah. Dengan
hati-hati Raden Cetang menghampiri tempat itu lebih dekat lagi agar dapat
mendengar pembicaraan dewa-dewa itu dengan jelas.
![]() |
Raden Cetang Mendengar Pembicaraan Dewa-Dewa |
Salah seorang dari dewa-dewa itu (Raja
Dewa) berkata: "Tidak salah lagi Raden Cetang itulah yang patut
menggantikan raja Mojopahit'.
Dewa yang lain berkata pula:
"Bagaimanakah caranya mengatasi saudara-saudaranya yang berenam itu?"
Yang lain menjawab pula: "Ada akal.
Kita adakan nang-nang (teka-teki). Siapa di antara mereka yang dapat menjawab
nang-nang itu, ialah yang akan menjadi raja. Untuk itu marilah kita
bersama-sama memikirkan apakah nang-nang yang akan kita berikan itu."
Jawab Raja Dewa: "Baiklah. Pada
malam ke 13 bulan depan kita berkumpul lagi di tempat ini untuk menetapkan
nang-nang." Setelah permufakatan selesai, satu per satu dewa dan bidadari
itu terbang ke langit. Raden Cetang menarik nafas panjang setelah para dewa itu
hilang dari pandangannya.
Kesempatan yang baik ", katanya
dalam hatI.
Ia melangkah lagi ke depan, ke bawah
pohon beringin tempat para dewa bersidang tadi. Betapa ia kaget, melihat di
bawah beringin itu terdapat sembilan tumpuk sampah sirih. Tiap tiap tumpuk
hampir sebesar bukit. Jadi dewa itu berjumlah sembilan orang. Dan tempat ini
telah lama mereka pergunakan untuk tempat bercengkerama dan berunding.
(Dalam serambak)
tempat ini di sebut :
Wingin culo watu
Das peak sembilan tambun
Penan diwo bedelomok
Duwate becelutau
Nak Padang Gersik Bulan
Artinya:
Beringin di atas batu
Di atas ampas sirih sembilan tumpuk
Tempat dewa berunding
Dewata bermufakat
Di Padang Gersik Bulan
Raden Cetang memutuskan sebelum tanggal
13 bulan depan ia akan mendahului datang ketempat itu dan bersembunyi di bawah
sampah sirih itu. Dengan demikian ia akan dapat mendengar percakapan para dewa
lebih jelas.
Ia terus mengitari sekitar taman yang
indah itu. Dalam ke heran heranan melihat taman yang indah dan serba teratur,
ia berbicara sendiri menanyakan siapa yang mempunyai taman ini dan taman apa
namanya.
Tiba tiba seekor burung terbang dan
hinggap pada ujung jari kakinya lalu berkata, "Daulat tuanku. Inilah Taman
Ratu Bermanai, yaitu taman tuan sendiri. Dimana tuan nanti, tuan akan
digelari Ratu Bermani.
Setelah mendengar penjelasan burung itu,
ia meneruskan perjalanan pulang. Lega hatinya setelah mendapat keterangan dan
data data yang seolah olah suatu ilham baginya. Setibanya di rumah, terus masuk
kamar dan tidur. Penemuannya itu dirahasiakannya terhadap saudara-saudaranya.
Sumber :
Tim Penyusun Naskah
CR Bengkulu, 1979. Tambo Kejai : Beserta Lima Buah Cerita Rakyat
Lainnya dari Bengkulu. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan


