
Dua hari dua malam bimbang gedang berlangsung,
(Ilustrasi : AI generated for illustration purpose)

(Ilustrasi : AI generated for illustration purpose)
Tanggal 11 bulan berikutnya Raden Cetang
mendahului datang ke Wingin Culo Watu. Ia bersembunyi di bawah peak sembilan
tambun (Ampas sirih) di bawah pohon beringin itu. Dua hari dua malam ia ke-13
bulan terang benderang, turunlah 9 orang dewa. Mereka duduk menunggu di tempat
itu, tibalah malam yang dinanti-nantikan. Malam pada dahan-dahan beringin yang
ditumbuhi anggrek bulan yang besar- besar.
Setelah beberapa saat bergurau, mulai
raja Dewa berkata: "Marilah kita membicarakan soal nang-nang yang akan
kita berikan kepada ketujuh bersaudara anak raja Mojopahit yang patut menduduki
singgasana kerajaan".
Adapun nang-nang (teka-teki) yang akan
diberikan, pertama menentukan qangkal dan pucuk dari sebatang tongkat kayu yang
ujung pangkalnya sudah dibentuk sama besarnya. Kedua, menentukan jantan dan
betina dari ekor anak itik yang sama besar (kira-kira berumur seminggu) dan
yang ketiga menjawab nang-nang yang berbunyi sebagai berikut :
Nang-nang si burung nang,
Nang kusimpang samping jalan,
Gertak kudo tigo retak,
Siape ngen megong tanah Mojopahit,
Mutus maras tanah Metaram.
Adapun jawab dari pada ketiga nang-nang
itu dijelaskan pula, pertama, apabila tongkat itu diletakkan diatas air
pangkalnya akan tenggelam dan pucuknya akan terapung. Jawab yang kedua, apabila
kedua anak itik itu dibawa ke pinggir sungai, maka yang jantan akan terjun
lebih dahulu ke air itu. Dan jawab nang-nang yang ketiga sebagai berikut :
Nang-nang si burung nang,
Nang kusimpang samping jalan,
gertak kudo tigo retak,
Aku ngen megong tanah Mojopahit,
Mutus maras tanah Metaram.
Setelah mufakat selesai, diutuslah
seorang dewa pergi ke kerajaan Mojopahit untuk memerintahkan agar di kerajaan
diadakan bimbang gedang mulai tanggal 11 bulan berikutnya. Pada malam ke 13
atau ke 14 Raja Dewa akan datang membawa nang-nang.
Barang siapa yang dapat menjawab
nang-nang akan diangkat menjadi raja dan langsung dinobatkan oleh Raja Dewa.
Dewa itu kembali, selesai mufakat,
seluruh dewa itu terbang kembali ke langit. Raden Cetang kembali ke kerajaan
dan langsung masuk ke biliknya. Karena hatinya lega dan puas, tertidurlah ia
sepanjang hari.
Bahkan ia tak pernah ke luar dari
biliknya. Di luar orang sedang sibuk menyiapkan segala keperluan untuk bimbang
gedang. Mendirikan balai yang lebih besar, menghias seluruh kampung dan mengumpulkan
bahan-bahan makanan. Di seluruh pelosok ditabuh canang, menyiarkan bahwa tidak
ada kecuali, besar kecil, tua muda, harus berkumpul di balai kerajaan sejak
tanggal 11 bulan depan untuk menghadiri bimbang gedang penobatan raja
Mojopahit.
Demikianlah pada hari dan malam yang
telah ditetapkan itu, ramailah kota kerajaan Mojopahit dikunjungi oleh penduduk
dari hulu dan hilir lengkap dengan bermacam-macam keseniannya.
Dua hari dua malam bimbang gedang
berlangsung, pada malam ke- 13, tengah penari mematah dayung, datanglah Raja
Dewa. Ia hinggap pada kayu penyukung. (Kayu penyukung adalah garis tengah
balai, yaitu batas antara penari lelaki dengan penari perempuan untuk mengobah
gerak tari waktu pertukaran tempat, yang disebut patah dayung).
Semua alat bunyi-bunyian dihentikan dan
seluruh penari-penari pun duduk bersimpuh. Berkumpullah putera-putera raja.
Yang hadir hanya enam orang. Raden Cetang sengaja tidak diberitahu. Mereka
takut jangan-jangan ia terpilih menjadi raja. Raja Dewa mengeluarkan ketiga nang-nang
itu kepada putera-putera raja satu demi satu. Masing-masing hanya ternganga
saja. Tidak dapat menjawab.
Setelah dihitung, ternyata putera raja
itu kurang satu. Ditanyakanlah kepada mereka itu saudara mereka yang seorang
lagi. Menurut perhitungan selama ini putera raja Mojopahit berjumlah tujuh
orang. Raja Dewa memperingatkan kepada mereka agar bimbang gendang diteruskan
dan pada malam ketiga belas bulan depan ia akan datang lagi untuk mengeluarkan
nang-nang itu kepada putera yang ketujuh.
Berkeliaranlah keenam putera raja itu
mencari adiknya raden Cetang. Di seluruh kampung dan ladang ditanyakan
kalau-kalau ada yang melihat adik mereka raden Cetang. Mereka tahu bahwa adik
mereka itu pernah mengatakan bahwa ia akan bertamasya ke luar kota.
Setelah penat mencari, mereka pulang ke
kota dan mencari dalam istana, ternyata Raden Cetang ada dalam biliknya dan
tidur nyenyak
Sumber :
Tim Penyusun Naskah CR Bengkulu,
1979. Tambo Kejai : Beserta Lima Buah Cerita Rakyat Lainnya dari
Bengkulu. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
