| ilustrasi Buku Tambo Kejai (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose) |
Dalam khasanah budaya Nusantara, sebelum
budaya tulis dikenal luas, tradisi lisan telah lebih dulu membudaya. Dongeng,
mantra, pantun, cerita rakyat telah disampaikan dari mulut ke mulut, dari
generasi ke generasi. Cerita lisan mudah fleksibel dan berkembang mengikuti
masyarakat. Namun sayangnya, cerita lisan juga bisa hilang jika tidak ada yang
meneruskan.
Salah satu cerita lisan yang berkembang
di masyarakat Melayu, terutama Minangkabau dan Rejang adalah Tambo / Tembo.
Tambo berasal dari bahasa Sanskerta, Tambay yang
berarti awal.
Berbeda dengan dongeng atau legenda,
Tambo mencampur sejarah dan mitos, dianggap sebagai panduan hidup yang penting.
Tambo berfungsi sebagai dasar hukum sosial, menjelaskan asal usul
tokoh dan daerah, aturan adat, tentang batas wilayah, dan lainnya
tentang asal muasal.
Semuanya bertujuan sama: menjaga
identitas. Tanpa Tambo, kita kehilangan silsilah keluarga. Tanpa
Hikayat, kita kehilangan imajinasi dan contoh yang baik. Tanpa cerita lisan,
kita kehilangan semangat kebersamaan. Di era digital, mendokumentasikan cerita
lisan adalah cara agar kita tidak lupa pada diri sendiri.
Fragmen-fragmen Tambo kejai beredar
luas di kalangan masyarakat Rejang, terutama di kalangan orang tua-tua di
kecamatan Lebong, Kabupaten Rejang Lebong, propinsi Bengkulu. Saat ini Lebong
telah menjadi wilayah administratif terpisah, yakni Kabupaten
Lebong. Fragmen-fragmen cerita lisan tersebut kemudian disusun
oleh Bapak Djalaludin dan Tim Penyusun Naskah CR Bengkulu menjadi
sebuah buku kumpulan cerita rakyat dari Bengkulu yang diterbitkan
pada tahun 1979, termasuk di dalamnya Tambo Kejai. Penulisan buku ini
sendiri merupakan “Proyek Pengembangan Media Kebudayaan” yang
diprakarsai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Tambo Kejai bukan hanya sekadar kumpulan silsilah atau hikayat asal-usul tapi juga menjadi representasi identitas masyarakat Rejang. Sebagaimana Kejai adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat Rejang.
Tambo Kejai ini terdiri dari sembilan bagian ini diadaptasi ulang sebagaimana sumber aslinya, dengan tetap menjaga keaslian teksnya. Publikasi ulang ditujukan untuk memudahkan akses bagi khalayak luas, terutama generasi muda suku Rejang. Publikasi ini diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat luas di tengah minimnya referensi, serta semakin mendorong kecintaan pada kekayaan Budaya Rejang. (**)
Daftar Bagian Tembo Kejai :
- Tambo Kejai: Sebuah Mukadimah
- Tambo Kejai (Bagian 1) - Penan Bagiak Mbago Bagai
- Tambo Kejai (Bagian 2) - Bimbang Gedang
- Tambo Kejai (Bagian 3) - Raden Cetang Menjadi Raja
- Tambo Kejai (Bagian 4) - Tak Dapat Menghukum
- Tambo Kejai (Bagian 5) - Puteri Serimbang Bulan (Puteri Senggang)
- Tambo Kejai (Bagian 6) - Janji Mungkir
- Tambo Kejai (Bagian 7) - Nira dan Mata Ikan
- Tambo Kejai (Bagian 8) - Kejei
- Tambo Kejai (Bagian 9 Tamat) - Adu Sakti
