![]() |
| Arak-Arakan Raden Cetang Menuju Istana (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose only) |
Raden Cetang dibangunkan oleh
saudara-saudaranya. Ia tersentak. Sambil mengusap-ngusap mata ia menanyakan
mengapa dan apa membangunkannya. Satu demi satu mereka menerangkan peristiwa
yang telah terjadi pada mereka. Mereka memohon pertolongan adiknya untuk
memberikan jawaban nang-nang itu.
"Aaaaaah .... !" jawab Raden
Cetang sambil menguap dan berbaring kembali hendak tidur.
"Ei, Dik !", kata salah
seorang kakaknya. Tolonglah ! Bukankah sepeninggal ayahanda belum ada lagi yang
dapat menggantikan beliau untuk memegang tampuk pemerintahan Kerajaan Mojopahit
ini? Bangunlah, Dik. Kami memberi kesempatan kepadamu untuk menjawab nang-nang
itu di hadapan Raja Dewa
Dengan gerak lesu Raden Cetang duduk dan
berkata: "Wahai kakak-kakakku yang saya muliakan. Saya adalah seorang yang
paling hina, paling buruk dan paling bodoh di antara kita bersaudara. Adakah
patut saya diajak menghadap Raja Dewa yang terhormat itu?"
"Tidak, Dik. Kami diperintahkan
beliau untuk mencari kau. Mudah-mudahan kaulah yang dapat menolong kami untuk
menjawab nang-nang tersebut."
Karena desakan-desakan kakaknya, Raden
Cetang mengalah.
"Baiklah. Tapi dengan syarat
", katanya
Apakah syaratnya, Dik? Terangkanlah!
Kami berjanji akan memenuhi segala permintaanmu jika kau bersedia memberi
jawaban nang-nang itu di hadapan Raja Dewa bersama kami," jawab seluruh
saudaranya.
"Syarat-syaratnya sangat ringan.
Saya akan masuk ke balai bimbang untuk menghadap Raja Dewa seperti halnya
ayahanda dahulu akan masuk ke balai. Semua pakaian kebesaran ayahanda harus
saya pakai. Dilengkapi dengan 40 orang dayang, dikelilingi oleh 40 orang di
depan, 40 orang di belakang, demikian juga di samping kiri dan samping kanan.
Barisan paling belakang mengiringi arak-arakan ini dengan bunyi-bunyian. Kalau
semua ini dapat dilaksanakan, dapatlah saya mengabulkan permintaan kakak-kakak
sekalian."
Keenam saudara-saudaranya mengabulkan
permintaan Raden Cetang. Saat yang dinanti-nantikan telah tiba. Raden Cetang
telah siap dengan pakaian kebesaran raja, menunggang kuda putih, berpayung
kebesaran yang dihiasi dengan emas permata. Dikelilingi oleh 40 orang dayang,
pasukan pengawal raja di depan, di belakang, di samping kiri dan kanan,
masing-masing 40 orang, bersenjata tombak, pedang dan senjata-senjata perang
lainnya. Barisan paling belakang mengiringi arak-arakan itu dengan alat
bunyi-bunyian, seperti gong, kelintang dan sebagainya. Arak-arakan itu langsung
menuju ke balai bimbang.
Gegap gempita suara rakyat menyambut
arakan yang istimewa itu. Seluruh rakyat mengelu-elukan Raden Cetang
seolah-olah ia telah menjadi raja.
Melihat arakan yang serba lengkap itu,
Raja Dewa tersenyum dan berkata: "Inilah orang yang saya nanti-nantikan.
Mudah-mudahan ialah akan terpilih menjadi raja pada Kerajaan Mojopahit
ini."
"Marilah ke hadapanku Nak !
Jawablah nang-nang ini", kata Raja Dewa. Raja Dewa mengucapkan nang-nang
yang pertama, yaitu menentukan ujung dan pangkal tongkat kayu.
Raden Cetang menyuruh orang membawa
sebuah pasu besar berisi air. Tongkat kayu itu diletakkannya ke dalam pasu.
Raden Cetang memegang ujung tongkat yang tenggelam ke dalam air sambil berkata:
"inilah pangkal batangnya dan yang ujung satu lagi adalah pucuknya."
![]() |
| Kecerdikan Raden Cetang Saat Menjawab Nang-Nang Raja Dewa (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose) |
Nang-nang yang kedua, ialah menentukan
jantan dan betina anak. Raden Cetang mendekatkan anak itik tersebut ke pasu
yang berisi air itu. Anak itik yang lebih dahulu masuk ke dalam pasu itu
ditangkapnya dan berkata: "Inilah yang jantan".
Nang-nang yang ketiga, setelah diucapkan
oleh Raja Dewa dijawab oleh Raden Cetang dengan fasih dan nyaring:
"Nang-nang si burung nang,
Nang kusimpang samping jalan,
Gertak kudo tiga retak,
Aku ngen megong tanah Mojopahit,
Mutus maras tanah Metaram".
Setelah Raja Dewa membenarkan semua
jawaban itu, bergemuruhlah bunyi sorak semua yang hadir sambil memuji-muji
kecerdasan Raden Cetang.
Langsung ketika itu juga Raden Cetang
dinobatkan menjadi raja Kerajaan Mojopahit. Ramailah sorak rakyat
mengelu-ngelukan raja mereka yang baru. "Hidup raja baru! Selamat, panjang
umur raja muda !!!
Tim Penyusun Naskah CR Bengkulu, 1979. Tambo Kejai : Beserta Lima Buah Cerita Rakyat Lainnya dari Bengkulu. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan


