![]() |
| Sepeninggal Raden Cetang, banyaklah terjadi huru-hara di kerajaan. (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose only) |
Di bawah pemerintahan Raden Cetang
Kerajaan Mojopahit mulai teratur kembali. Pemerintahan berjalan dengan lancar.
Keadilan terasa sempurna. Kehidupan rakyat makmur. Seluruh lapisan masyarakat
merasa puas karena dapat menikmati arti keadilan dan kemakmuran yang
sebenarnya.
Lain halnya dengan saudara-saudaranya
yang berenam. Perasaan dengki dan dendam tak hendak luput dari benak mereka.
Setiap saat dan waktu mereka mencari ikhtiar untuk menjatuhkannya. Dengan jalan
mengkhianati,mencemarkan nama baiknya dan sebagainya.
Melihat keadaan saudara-saudaranya yang
makin hari makin nyata usahanya mereka menggulingkannya, maka Raden Cetang
memutuskan untuk mencoba saudara-saudaranya memegang pemerintahan.
Dimintanya kepada saudaranya yang tertua
untuk memegang pemerintahan buat sementara, karena ia akan beristirahat. Ia
akan bertamasya keluar kota untuk mencari hiburan. Permintaan ini disambut oleh
saudara sulungnya dengan gembira. Ia mengharapkan dalam hatinya semoga Raden
Cetang tidak akan kembali lagi.
Raden Cetang berangkat menuju ke sebuah
danau. Di sana kerjanya memancing ikan. Di pinggir danau itu dibuatnya sebuah
pondok untuk tempat berlindung.
Sepeninggal Raden Cetang, banyaklah
terjadi huru-hara di kerajaan. Persengketaan rakyat tidak dapat diadili dengan
sempurna. Suatu hari, ada dua orang ibu bersama-sama ke air ( ke sungai) hendak
mencuci pakaian. Masing-masing membawa seorang anak perempuan yang sebaya, sama
besar dan hampir serupa parasnya. Kedua anak itu baru pandai duduk.
Setibanya di tepian, masing-masing anak
itu didudukan di atas batu di pinggir sungai. Kedua ibu mencuci pakaian sambil
bercakap-cakap dengan asyiknya.
Tiba-tiba salah seorang anak itu jatuh
ke dalam sungai dan hanyut di air yang deras lagi dalam itu.
Ketika mereka tahu peristiwa itu, mereka
saling bertanya: "Anak siapakah yang hanyut ?"
Yang seorang menjawab: "Anak kamu.
Ini anakku masih ada ".
Kata yang seorang lagi: "Bukan. Ini
anakku. Anakmulah yang hanyut itu"
Terjadilah pertengkaran sejadi-jadinya
di tepian itu. Mereka saling memperebutkan anak yang seorang itu. Akhirnya
mereka mengambil keputusan akan mengadukan hal mereka kepada raja.
Di hadapan raja kedua perempuan itu
saling bertahan, bahwa yang satu mengatakan anaknyalah yang tinggal ini,
sedangkan yang seorang lagi mengatakan bahwa yang ini adalah anaknya.
Raja bingung. Tidak dapat ia memutuskan
perkara ini. Sangat sukar untuk mengambil keputusan. Kedua perempuan beserta
anak itu ditahan sementara dalam istana, karena raja beralasan akan mencari
jalan damai. Raja memerintahkan hulubalang mencari Raden Cetang. Barangkali ia
dapat mengadili peristiwa ini.
Setelah hulubalang mengangkat sembah,
berangkatlah ia ke luar kota untuk mencari Raden Cetang. Sepanjang perjalanan
ditanyakan kepada orang kampung, kalau-kalau ada yang dapat menjelaskan di mana
tempat Raden Cetang, raja muda kerajaan Mojopahit.
Rakyat kampung pernah melihat Raden
Cetang meliwati kampung-kampung beberapa minggu yang lalu. Arahnya menuju ke
sebuah danau. Tapi setelah itu ia tak pernah muncul lagi.
Kebetulan di tepi sebuah danau
kelihatanlah seorang yang sedang duduk di atas sebuah batu sambil memegang
pancing. Memang benar, Raden Cetanglah yang sedang memancing itu.
![]() |
| Hulubalang itu menceritakan semua jalan terjadinya perkara. (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose only) |
Hulubalang mengangkat sembah:
"Wahai Tuanku, patik diperintahkan untuk menjemput Tuanku, karena di
istana ada suatu peristiwa, dua orang perempuan yang memperebutkan seorang
anak. Sedangkan kakak sulung Tuanku yang mewakili menjadi raja tidak dapat
memutuskan !!
Hulubalang itu menceritakan semua jalan
terjadinya perkara.
"Baiklah", kata Raden Cetang.
"Marilah kita pulang segera. Perkara yang semudah itu gampang saja
diputuskan !!
Sesampai di istana, Raden Cetang
memerintahkan kedua perempuan dengan anaknya supaya dibawa ke balai untuk
diadili. Semua rakyat harus berkumpul untuk menyaksikan sidang pengadilan itu.
Raden Cetang menyuruh orang
menelentangkan anak itu di atas meja yang terletak di tengah-tengah balai.
"Nah !" kata Raden Cetang
sambil menghunus pedangnya. "Oleh karena anak ini kepunyaanmu berdua,
terpaksalah anak ini dipotong menjadi dua bahagian yang sama untuk dibagikan
kepadamu berdua".
Ketika Raden Cetang mengangkat pedangnya
untuk memotong anak itu, salah seorang dari perempuan itu merebahkan badannya
ke atas meja. Sambil menangis ia berkata: "Jangan dipotong anak itu
Tuanku.Berikanlah ia kepada perempuan itu. Potonglah aku sebagai pengganti anak
ini ".
Perempuan yang seorang lagi tidak
bergerak dari tempatnya menunggu hukuman raja.
Dengan siasat yang demikian, Raden
Cetang dapat mengambil keputusan, bahwa perempuan yang sanggup menggantikan
hukuman itulah sebenarnya yang mempunyai anak tersebut.
Akibat peristiwa ini, saudara sulung
diturunkan dari singgasana karena Kubuak Hukum (tidak dapat menghukum).
Selanjutnya pemerintahan diserahkan
kepada saudaranya yang kedua, karena Raden Cetang akan melanjutkan istirahatnya
di luar kota. Satu demi satu saudara Raden Cetang mengalami peristiwa yang
sulit, diakhiri dengan Kubuak Hukum, dan dipecahkan oleh Raden Cetang.
Sampai kepada giliran saudaranya yang
keenam (yang terakhir), Raden Cetang menyatakan bahwa ia akan pergi jauh dan
mungkin tak akan kembali lagi. Dinasehatinya agar saudaranya memerintah dengan
baik dan berlaku adi
"Peganglah nasehat : Raja adil raja
disembah, tak adil raja disanggah", kata Raden Cetang.
Sumber
:
Tim
Penyusun Naskah CR Bengkulu, 1979. Tambo Kejai : Beserta Lima Buah
Cerita Rakyat Lainnya dari Bengkulu. Jakarta : Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan

.jpg)
.jpg)