![]() |
| Raden Cetang meninggalkan kerajaan Mojopahit (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose only) |
Raden Cetang teringat janji dengan
seorang perempuan tatkala mengikat janji di Luhmahfuz. Puteri itu bernama
Puteri Serimbang Bulan.
Menurut perjanjian, mereka akan bertemu
jodoh di dunia nanti. Sang puteri memberi pedoman, bahwa ia akan turun ke dunia
nanti di hulu sungai yang airnya paling antan (berat).
Raden Cetang meninggalkan kerajaan
Mojopahit. Ia menyeberang lautan dengan sebuah sampan. Arahnya ke barat
menuju pulau Sumatera. Dari pantai Sumatera Selatan bahagian barat ia menyusur
pantai terus ke utara dan menamai beberapa buah sungai yang bermuara ke laut.
Tiap-tiap air sungai itu ditimbang beratnya.
Akhirnya ia menemui sebuah sungai yang
airnya ternyata lebih berat dari yang lain. Bahkan (menurut pencerita) lebih
berat dari air laut.
Dengan bertemunya air sungai itu akan
ketahuanlah tempat kelahiran Puteri Serimbang Bulan. Dan sungai itu diberinya
nama air Ketahun, kemudian akhirnya menjadi air Ketahun.
Dimudikinya air Ketahun. Semua anak
sungai yang bermuara ke Air Ketahun ditimbang lagi beratnya, sampai akhirnya ia
bertemu dengan sebuah anak sungai yang paling berat timbangannya. "Inilah
air yang paling antan", katanya.
Selanjutnya air itu disebut air Antan
dan akhirnya menjadi air Santan.
Dekat muara Air Santan ada sebuah
ladang, yang didiami oleh seorang nenek.
Dihampirinya pondok di tengah ladang itu
sambil memanggil-manggil siapa yang mempunyai ladang. Dari dalam pondok
keluarlah nenek menjenguk orang yang memanggil-manggil.
"Silahkan ke pondok, Nak",
kata nenek setelah dilihatnya ada orang di pekarangan pondoknya.
Sambil mengucapkan terima kasih, naiklah
Raden Cetang ke tangga yang terbuat dari bambu dan terus diajak oleh nenek
masuk ke dalam pondok.
Raden Cetang tinggal bersama nenek di
pondok itu, oleh desakan nenek untuk menemaninya. Nenek tersebut tinggal
seorang diri di ladang yang terpencil itu. Beberapa bulan yang lalu suaminya
meninggal. Jadi sekarang ia tinggal sebatang kara. Tidak ada teman bergurau,
kawan berbicara atau lawan berunding, selain seekor kucing tua yang bersedia
membersihkan rumahnya. Seekor ayam jantan kadang-kadang berkokok menyentakkan
nenek dari lamunannya.
Tak jauh dari ladang nenek, ada sebuah
kampung yang didiami oleh seorang bekas raja dari Pagaruyung. Namanya Raja
Magek. Ia telah kawin dengan seorang perempuan anak Merejang Sawah.
Kampung ini bernama Kutai Ukem. Rajo
Magek itulah yang memerintah kampung itu. Ia telah mempunyai tiga orang anak
laki-laki. Yang seorang bernama Setio Kelawang, anaknya dengan Siti Rahmah,
anak Merejang Sawah tadi. Sedangkan yang seorang lagi bernama Setio Sawang,
adalah anaknya dari Pagaruyung, baru datang mencari ayahnya setelah
ditinggalkan sejak kecil.
Kelak, empat orang anak Setio Kelawang
mendiami lembah, yang sekarang dinamai dusun Ujung Tanjung. Itulah sebabnya
sekarang di dusun Ujung Tanjung terdapat empat suku, yaitu Suku Muning Agung,
Suku Tunggok Meriam, Suku Pantai Jeragan dan Suku Setio Bulen Tuai, Kepala Suku
itu diwarisi secara turun temurun.
Pada saat itu isteri Rajo Magek akan
melahirkan anak. Telah seminggu lamanya namun anak belum juga lahir. Telah
banyak dukun yang dipanggil tapi tak satu pun obat yang mujarab. Sedangkan
tanda-tanda akan melahirkan sudah ada.
Rajo Magek memerintahkan orang mencari
kalau-kalau masih ada dukun yang belum dipanggil, atau siapa saja yang dapat
membidani isterinya.
Melalui percakapan-percakapan orang
kampung, ada seorang pendatang, entah dari mana, tinggal bersama nenek di
ladang dekat muara Air Santan. Mungkin orang ini dapat menolong isteri Rajo
Magek.
Beberapa orang disuruh oleh Rajo Magek
untuk menjemput Raden Cetang, tetapi ia menolak karena ia tak dapat membidani
orang bersalin.
Rajo Magek sangat gelisah hatinya, ia
sendiri pergi menjemput.
Pada mulanya Raden Cetang tetap menolak
permintaan Rajo Magek. Beberapa alasannya tidak dihiraukan oleh Rajo Magek.
Akhirnya Raden Cetang mengalah karena
Rajo Magek menetapkan suatu perjanjian. Kalau anak itu nanti laki-laki maka
Raden Cetang boleh mengambilnya menjadi anak atau budak yang akan menjadi
pembawa buntil. Jika anak itu perempuan, maka anak itu akan dijodohkan dengan
Raden Cetang kalau sudah dewasa kelak.
Berangkatlah mereka menuju ke rumah Rajo
Magek. Raden Cetang mengeluarkan ramuan obatnya. Dengan obat dan isyarat yang
mustajab, lahirlah seorang anak perempuan. Anak tersebut telah menampakkan
bakat wajah yang cantik, laksana bulan purnama. Diberilah namanya ketika itu
juga Puteri Serimbang Bulan. Tapi orang dusun sering memanggilnya Puteri
Senggang, karena kelahirannya tersenggang beberapa lama hingga saat dibidani
oleh Raden Cetang.
Sumber :
Tim Penyusun Naskah CR Bengkulu, 1979. Tambo Kejai : Beserta
Lima Buah Cerita Rakyat Lainnya dari Bengkulu. Jakarta : Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan

