![]() |
| Raden Cetang berladang di pinggir danau Tes di dekat Teluk Lem (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose only) |
Sambil menunggu Puteri Serimbang Bulan
(Puteri Senggang) meningkat dewasa, Raden Cetang mohon diri kepada nenek. Ia
akan pergi berladang di pinggir danau Tes di dekat Teluk Lem.
Di sanalah asal mulanya dusun Tes.Setiap hari, setelah
selesai bekerja di ladang, ia pergi memancing di Teluk Lem, sambil duduk di
butau Begesea (batu yang hampir jatuh).
Menurut cerita, Puteri Serimbang Bulan adalah anak yang
luar biasa. Belum waktu merangkak, telah berjalan, belum waktu besar telah
dewasa. Rupanya sangat cantik. Tak ada bandingannya di daerah itu. Sepantasnya
ia dijodohkan dengan raja-raja besar, atau saudagar saudagar kaya.
Rajo Magek mulai goyang dengan janjinya terhadap Raden
Cetang. Apabila mendengar ocehan orang kampung, "Masakan puteri secantik
ini dijodohkan dengan laki-laki dungu itu. Telinganya selebar Teleng, rupanya
sangat buruk".
Akhirnya dikirimlah seorang utusan ke tempat Raden Cetang
di Teluk Lem untuk menyampaikan pesan Rajo Magek bahwa pertunangannya dengan
Puteri Serimbang Bulan dibatalkan.
Dengan penuh kesabaran, menjawablah Raden Cetang :
"Apa hendak dikata. Memang janjilah yang dapat mungkir dan bicaralah yang
dapat berbohong".
Sepeninggal para utusan Rajo Magek, ia pergi mengembara ke
sepanjang pantai, dikumpulkannya segala macam bibit penyakit Dengan diam-diam
ditumpahkannya bibit penyakit itu kepada diri Puteri Serimbang Bulan.
Tak terkatakan penderitaan Puteri Serimbang Bulan mengidap
bermacam-macam penyakit. Sekujur tubuhnya, dijangkiti berbagai-bagai penyakit
kulit. Makin hari makin parah penyakitnya. Puteri yang cantik molek telah
berubah rupa menjadi orang yang buruk. Karena bermacam-macam obat telah
melumuri kulit yang berkoreng, berkurap itu, tak kelihatanlah lagi rupa
kulitnya yang putih itu. Gatal dan perihnya tak tertahankan lagi. Makin diobat
makin parah, berganti dukun makin menjadi-jadi perihnya.
Rajo Magek dan isterinya hampir putus asa. Untunglah mereka
segera teringat kepada Raden Cetang. Mungkin dialah yang dapat mengobati Puteri
Serimbang Bulan. Beberapa utusan untuk menjemput Raden Cetang, namun ia tak
hendak datang.
Akhirnya Rajo Magek terpaksa datang bersama isterinya ke
Teluk Lem untuk menemui Raden Cetang. Lebih dahulu Rajo Magek meminta maaf atas
kelancangannya memungkiri janjinya di ladang nenek.
Dengan tersenyum Raden Cetang menjawab :"Tak apalah
Wak, janji itu telah biasa mungkir. Tak usah di ingat-ingat lagi janji itu”.
"Tidak, nak.Janji itu tidak akan dimungkiri. Kalau
tidak janji, apakah yang harus dipatuhi lagi? Saya tidak akan memungkiri janji
itu. Kau tetap akan kami jodohkan dengan anak kami Puteri Serimbang Bulan.
Percayalah ! Tapi sekarang tidak dapat dilaksanakan perkawinanmu karena Puteri
Serimbang Bulan sedang menderita penyakit kulit yang sangat parah. Untuk ini
kami mohon pertolonganmu untuk mengobati penyakit tersebut. Setelah sembuh
perkawinan segera akan dilaksanakan."
Permintaan kedua suami isteri itu dikabulkannya. Segeralah
mereka berangkat ke Kutai Ukem.
Segala bibit penyakit itu dikumpulkan lagi oleh Raden
Cetang, ditumpahkannyalah kepada penyu. Itulah sebabnya kulit badan penyu
sekarang berukir-ukir, karena telah dirusakan oleh penyakit kulit.
Sumber :
Tim Penyusun Naskah CR Bengkulu, 1979. Tambo Kejai : Beserta Lima Buah Cerita Rakyat Lainnya dari Bengkulu. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

