![]() |
| Raden Cetang menyediakan dua permintaan bakal mertuanya, nira dan mata ikan. (Ilustrasi : AI generated for illustration purpose only) |
Puteri Serimbang Bulan
telah segar bugar kembali. Bahkan wajahnya lebih cantik dari semula. Apa
hendak dikata, janji tak dapat dimungkiri lagi. Rajo Magek telah berjanji
untuk kedua kalinya terhadap Raden Cetang.
Rajo Magek menetapkan bahwa
perkawinan antara anaknya dengan Raden Cetang segera akan dilaksanakan.
Peralatan perkawinan itu direncanakan akan mengadakan bimbang gedang
selama sembilan bulan.
Disiarkanlah berita rencana
Rajo Magek ini ke seluruh pelosok kampung dan desa, ladang dan
huma. Seluruh rakyat diharuskan membantu menyiapkan bahan-bahan dan
alat-alat yang diperlukan untuk bimbang gedang sembilan bulan itu.
Kaum lelaki mengumpulkan
kayu dan bambu untuk bahan balai, Kayu api dan damar untuk lampu dikumpulkan
juga. Kaum perempuan mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk menerima
tamu. Sirih pinang, rebung dan daun pembungkus dikumpulkan dalam sebuah
ladang.
Rajo Magek meminta juga
kepada bakal menantunya agar ia dapat menyediakan nira dan mata Ikan. Nira
gunanya untuk minuman para tamu dan pekerja-pekerja dan juga untuk manisan
juadah wajik dan sebagainya. Mata ikan gunanya untuk bahan membuat lemea.
Lemea adalah makanan khas suku Rejang. Bahannya adalah rebung
yang diasamkan bercampur ikan.
Sebenarnya Rajo Magek
hendak mencari alasan untuk menggagalkan perkawinan ini. Bukankah tidak sedikit
nira yang diperlukan untuk bimbang gedang selama sembilan bulan itu. Mengapa
pula mata ikan yang diminta untuk bahan membuat lemes itu?
Dengan sabar dan keteguhan
hatt, pulanglah Raden Cetang ke ladang nenek. Diceritakannya permintaan bakal
mertuanya kepadanya. Nenek pun terkejut mendengar beban yang sangat berat
itu.
Raden Cetang mulai
mengumpulkan serat kelai. Dipintainya serat kelal itu. Setelah cukup, mulailah
ia menyirat jala. Kecepatan menyirat jala luar biasa. Tidak cukup seminggu,
jalan telah siap untuk dibawa mencari ikan. Sambil menyandang jala,
berangkatlah Raden Cetang kehulu Air Deras dekat jembatan Tunggang
sekarang. Di sini, menurut keterangan orang, di sekitar itu ada sebuah
batu yang disebut batu mengapung. Batu itu terletak di tengah-tengah air
yang deras. Bagaimana pun besarnya banjir, batu itu takkan tenggelam atau
hanyut.
Di hulu batu inilah Raden
Cetang menyerakkan jalanya yang pertama kali. Wah, banyaknya ikan, Gembira
ia melihat jalanya penuh berisi ikan. Dari bawah dilihatnya tiap mata jala
itu terisi ikan. Sampai di puncak jala ternyata dua lobang mata jala itu
masih kosong.
Hatinya belum puas. Belum
sakti namanya kalau masih terdapat kekurangan. Dilepaskannya semua ikan itu
kedalam air. Seekor pun tak dibunuhnya.
Lebih kurang satu kilometer
dari tempat itu, arah ke hulu, di suatu lubuk yang dinamainya Lubuk Genyem,
diseraknya jalanya untuk kedua kalinya. Bila diangkatnya, ternyata masih
ada satu lobang mata jala yang masih kosong, Dilepaskannya kembali semua
ikan itu ke dalam lubuk.
Disandangnya jala, Berpikir
sebentar. Kemana lagi akan diserakkan jala ini agar tidak ada lagi semata pun
yang kosong. Ia mengingat-ingat di mana ia pernah melihat ikan banyak. Ia
teringat sebuah lubuk dekat ladangnya di Teluk Lem danau Tes.
Berangkatlah ia ke hulu
memintas jalan darat. Di tengah jalan, didapatinya bekas jalan yang dilalui
gajah. Dan sampai sekarang tempat itu masih disebut penyeberangan gajah (dekat
SD Negara Taba Anyar Tes sekarang). Di pinggir jalan itu didapatinya
sebatang enau yang sedang mengural mayang, Mayang sudah tua dan sudah waktunya
untuk disadap niranya.
Diambilnya rodok dan
dipancungnyalah mayang itu. Disadapnya dengan seruas buluh telang. Selesai
memasang bumbung, ia berangkat ke Teluk Lem
Di Teluk Lem ia merasa
puas. Tak selobang mata jalanya yang kosong Diangkatnya jala ke darat. Diculiknya
mata ikan itu masing-masing sebelah. Setelah diambilnya matanya sebelah,
dilepaskannya kembali ikan itu ke lubuk. Demikian sampai habis ikan yang di
jala.
Mata ikan itu dimasukkannya
ke dalam buluh telang, Seruas buluh telang telah penuh dengan mata ikan.
Jala disandang, butuh
dijinjing berjalanlah ia menuju ke hilir. Ketika sampai dipenyeberangan gajah
dilihatnya bumbung niranya hampir penuh. Diambilnya dan dibawa pulang. Jadi
dalam sekali perjalanan ia telah berhasil mendapat dua permintaan bakal mertuanya.
Tiba di hulu dusun Kutai
Ukem, disandarkannya kedua buluh bumbung itu pada sebatang pohon belimbing.
Mungkin karena beratnya bumbung itu, batang belimbing itu menjadi condong.
Segera dilaporkannya hasil
pencahariannya itu kepada bakal mertuanya. Ia kembali ke pondok nenek. Isteri
Rajo Magek memerintahkan seorang laki-laki untuk mengambil bumbung yang
tersandar pada pohon belimbing di hulu dusun. Aneh, bumbung itu tidak terangkat
olehnya. Sebuah bumbung pun tak dapat diangkat. Bergerak saja tidak.
Suruhan itu segera
melaporkan hal itu kepada isteri Rajo Magek. Beberapa suruhan lain pun tak
dapat membawa bumbung itu pulang. Isteri Rajo Magek tidak percaya
laporan-laporan surahannya itu. Ia pergi bersama perempuan-perempuan lainnya
untuk mengambil bumbung itu. Benarlah, apa yang telah dilaporkan oleh
suruhan-suruhannya itu. Sebuah bumbung tak dapat diangkat oleh berpuluh-puluh
orang.
Hal itu diceritakan oleh
isteri Rajo Magek kepada suaminya. Tak terkatakan marah Rajo Magek mendengar
cerita yang bukan-bukan itu.
"Pemalas kalian ini.
Masakan bumbung hanya dua buah itu kalian serahkan kepada saya untuk
mengangkatnya ? Mungkinkah itu?” bentak Rajo Magek.
"Kalau tidak percaya,
pergilah kanda mencobanya," sahut isterinya.
Sambil menggerutu pergilah
Rajo Magek ke tempat bumbung tersandar itu.Dicobanya mengangkat salah satu
bumbung itu. Aneh! Tidak bergerak. Aduh alangkah beratnya. Dibacanya ilmu kuat.
Dikeluarkannya kesaktiannya. Dicoba sekall lagi. Jangakan terangkat, bergerak
pun tidak Bahkan batang belimbing itu bertambah condong berlaga, Bercucuran
keringarnya, namun usahanya sia sia saja.
Rajo Magok pun menyerah. Ia
pulang menceritakan hal itu kepada istrinya. "Temuilah Raden Celang,
katakan saja bahwa bumbungnya tidak diketahui tempatnya. Telah payah dicari
tidak beraua. Katakan kepadanya agar ia sendiri mengambilnya dan di bawa ke
dekat balai ini".
Pergilah isteri Rajo Magek
menceritakan hal itu kepada Raden. "Raden, telah kami suruh orang untuk
mengambil bumbung yang Raden ceritakan itu. Mereka tidak dapat menemuinya.
Barangkali baik juga tempat Raden menyembunyikan bumbung itu. Ataukah bumbung
ir sudah dicuri orang ?"
Demikianlah isteri Rajo
Magek, tidak mau menceritakan kelemahannya. Dimintanya agar Raden Cetang
sendiri yang mencarinya dan dibawa ke dekat balai.
Raden Cetang pergi ke
tempat ia meletakkan bumbung. Masih ada. Belum bergerak dari tempatnya.
Kedua-duanya masih tersandar pada batang belimbing. la tersenyum ketika melihat
tanah di sekitar tempat itu berbencah-bencah, seperti bekas beberapa ekor gajah
berlaga. Ia mengerti apa yang telah terjadi di tempat itu.
Diangkatnya kedua bumbung
itu dengan mudah, disandarkan ke bahu kiri dan kanan, dibawa ke dekat balai
Rajo Magek. Di letakkannya di bawah batang jambu, sehingga buah jambu yang
masih muda-muda berguguran semuanya akibat getaran bumbung ketika
dihentakkan ke tanah.
Hampir semua orang mengejek
ketika melihat bahan yang dibawa olch Raden Cetang.
"Nira yang sedemikian
cukup untuk sekali teguk".
"Ikan itu barangkali
untuk makanan kucing", kata yang lain pula.
Bermacam-macam lagi
kata-kata ejekan karena melihat bahan yang sangat sedikit itu. Mereka
mengira Raden Cetang hanya sekadar melepaskan hutang saja.
Isteri Rajo Magek berkata:
"Tidak apalah. Maklum saja orang yang akan menjadi pengantin. Itu
hanya sekadar untuk mendapat berkahnya saja. Nantilah kita usahakan
mencari yang lain. Bukankah kalian sanggup membantu kami untuk memeriahkan
perhelatan ini?"
Mendengar itu redalah
ocehan orang banyak itu. Mereka berebut rebutan ingin mencoba meminum
nira. Saling dahulu mendahului, karena takut kehabisan.
Anehnya seluruh yang hadir
telah meminum sepuas-puasnya namun sisanya masih tetap ada dalam bumbung.
Dipergunakan untuk memasak juadah sekuali, dua kuali, bahkan
berpuluh-puluh kuali, namun nira masih juga bersisa. Demikian juga
halnya dengan mata ikan. Berpuluh-puluh guci telah penuh lemea. Berapa
banyak ikan yang diperlukan tetap keluar dari dalam buluh dan masih
bersisa.
Tak ada yang berani mengeluarkan
kata-kata ejekan lagi. Sekarang barulah mereka tahu bahwa Raden Cetang
adalah manusia luar biasa. Kalau cemoohan sampai terdengar kepadanya,
mungkin akan mencelakakan orang kampung, Untunglah hal yang demikian tidak
terjadi
Sumber :
Tim Penyusun Naskah CR Bengkulu, 1979. Tambo Kejai : Beserta Lima Buah Cerita Rakyat Lainnya dari Bengkulu. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

