header ads

Sewar: Senjata Tradisional Bengkulu

 

Sewar atau Siwar Tergolong Senjata Tusuk atau Tikam

(Foto : AI for ilustratrion purposed only)


Senjata tradisional merupakan bagian dari identitas budaya dari suatu suku. Banyak nilai sejarah, teknologi dan simbolik yang terkandung dalam sebuah senjata tradisional. Selain menjadi pelengkap bela diri atau silat tradisi. Suatu senjata yang dipusaka-kan juga merupakan simbolisme dalam pewarisan keturunan. Senjata yang demikian sangat dijaga dan tidak dipergunakan untuk sembarangan waktu dan tempat.

Salah satunya adalah Sewar, sebagian masyarakat menyebutnya Siwar. Senjata ini sudah dikenal sejak lama dan digunakan oleh masyarakat Bengkulu, terutama Suku Rejang dan Suku Serawai. Cerita tentang awal mulanya banyak bersumber dari penuturan lisan yang diwariskan turun-temurun.  Saat ini ada beberapa sewar yang disimpan di Museum. Sewar dapat ditemukan di Museum Negeri Bengkulu (nomor koleksi 181 - 1981/1982) dan juga di Tropen Museum.

Sewar mempunyai bentuk yang agak berbeda. Tidak seperti keris, siwar hanya mempunyai satu sisi bilah tajam. Panjangnya berkisar antara 15 hingga 30 sentimeter, dengan lebar sekitar 1 hingga 2 sentimeter. Sewar tergolong senjata tusuk atau tikam. Karakteristik ini diperkuat oleh ujungnya meruncing dan bilahnya sedikit membungkuk mengikuti bentuk hulu atau gagangnya. Ukurannya yang tidak terlalu besar memudahkannya untuk dibawa di belakang pakaian dengan cara diselipkan.

Proses pembuatan sewar memerlukan ketelatenan, Kualitas sewar sangat bergantung pada bahan baku dan keterampilan pembuatnya. Tidak semua pandai besi mampu mengenali dan mengolah bahan tersebut dengan baik.  

Bahan baku utama sewar adalah besi tuang. Pengetahuan tentang jenis besi ini diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat mengenal beberapa jenis besi yang dipercaya memiliki kualitas dan kekuatan tertentu.

Dikutip dari, Ahmad, Ramli : 1992, Jenis besi yang disenangi atau sering dicari orang adalah : melilo kuning, melilo ruyung dan santan lanang.

Melilo Kuning adalah sejenis besi yang berwarna kekuning-kuningan tetapi bukan kuningan. jenis besi ini mengandung bisa yang tinggi dan oleh masyarakat dipercayai sebagai penakluk harimau.

Melilo Ruyung sering juga disebut melilo benang dengan ciri-ciri pada bilahan senjata terdapat garis-garis panjang lurus seperti benang. Melilo benang ini juga dikenal menyimpan bisa yang berbahaya.

Santan lanang adalah jenis besi yang diyakini memiliki tuah seperti sebagai penakluk harimau dan penangkal gangguan makhluk halus. Ciri-cirinya masih sangat sulit didentifikasi secara fisik kecuali bagi orang-orang tertentu yang betul-betul ahli dalam bidang persenjataan.

(Ahmad, Ramli : 1992)

Sewar dilengkapi dengan hulu (gagang) dan warangka (sarung) yang dibuat oleh pengrajin khusus. Bahan yang digunakan biasanya kayu kemuning atau teras pohon nangka. Proses pembuatan hulu dan warangka memerlukan ketelitian dan waktu yang cukup lama.

Sebagaimana senjata pusaka, Sewar harus selalu dimandikan (dirawat –red). Proses perawatan disebut “mengasami". Bahan yang digunakan antara lain arang mumpo, limau suratan, dedak halus, warangan, dan minyak kemiri. Bilah sewar digosok dengan arang dan air hingga bersih. Kemudian ditaburi dedak dan digosok kembali hingga kering. Cara menggosoknya selalu dari pangkal keujung. Selanjutnya bilah diolesi campuran limau dan warangan untuk menghasilkan warna mengilap. Tahap akhir dilakukan dengan mengoleskan minyak kemiri agar permukaan terlindungi.

Sewar Koleksi Museum Bengkulu, Asal Temuan dari Dusun Kepahiang.

(Foto : Ramli Ahmad)



Sewar dan Fungsinya.

Bagi sebagian besar masyarakat, Sewar dianggap sebagai pusaka dan tidak terlepas dari kepercayaan terhadap hal mistis. Sewar pusaka biasanya diwariskan secara turun-temurun dari leluhur. Dijelaskan oleh Ramli Ahmad (1992) yang paling dihormati adalah Sewar peninggalan Mulo Jadi (Leluhur yang dianggap mula/awal keturunan mereka).

Jadi dari garis keturunan laki-laki serta kepadanya dipercayakan untuk menyimpan sewar tersebut. Keturunan laki-laki yang dipercaya meneruskan sewar pusaka tersebut adalah yang terpilih baik secara kemampuan, maupun  sifat adil dan berbudi baik, sehingga dapat menjadi mempersatukan anak cucu dan keturuanan Mulo Jadi tersebut.”

Dalam praktik pengobatan tradisional, seorang dukun juga terkadang kadang menggunakan sewar dalam ritual tertentu. Keberadaannya dipercaya memiliki kekuatan ghaib yang dapat membantu penyembuhan.

Di beberapa daerah, terutama di Bengkulu Selatan, terdapat tari adat yang disebut tari sewar. Dalam tarian ini, sewar digunakan sebagai properti utama dan tidak dapat digantikan oleh senjata lain. Hal ini menunjukkan bahwa sewar telah menjadi bagian dari kesenian tradisional rakyat.

Secara simbolik, jenis hulu dan ikatan kain pada sewar memiliki arti tertentu. Sewar berhulu gading melambangkan keagungan dan kemewahan. Biasanya dimiliki oleh kalangan terpandang atau bangsawan. Ikatan kain merah menandakan bahwa sewar tersebut dianggap berbisa dan berbahaya. Sementara ikatan kain hitam melambangkan kekuatan gaib atau kesaktian.

Sewar adalah warisan budaya yang mencerminkan pengetahuan teknologi, sistem kepercayaan, struktur sosial, dan nilai simbolik masyarakat Bengkulu, bukan hanya senjata tradisional. Meskipun fungsi utamanya sebagai alat pertahanan diri sudah jarang digunakan dalam kehidupan modern, namun makna budaya dan historisnya tetap mengakar. Sewar menjadi bagian dari identitas lokal yang perlu dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang oleh perkembangan zaman.

 

Referensi :

Ahmad, Ramli dkk. 1991. Koleksi Senjata Tradisional Museum Negeri Provinsi Bengkulu. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Tim Rubo

berkumpul karena memiliki minat yang sama; meneliti, mengkaji dan menyebarluaskan Warisan Sejarah & Budaya

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال