Dilansir dari profil Pemerintah Kota Bengkulu, Bengkulu dalam bahasa Belanda disebut Benkoelen atau Bengkulen, dalam bahasa Inggris disebut Bencoolen, sementara dalam bahasa melayu disebut Bangkahulu.
Tentang nama Bengkulu, sebuah artikel yang terbit dalam koran “De Sumatra Post” tahun 1938 pernah mengulasnya. Dalam artikel tersebut dideskripsikan dengan lugas kondisi saat itu. Di satu sisi, kalangan Eropa terbiasa menyebut Bengkulu sebagai Benkoelen. Namun penduduk asli lebih memilih menggunakan Bengkoeloe (ejaan lama -red) atau Bangkahoeloe. Digambarkan pula bagaimana penduduk asli menggunakannya dalam keseharian, berbalas pantun, hingga kutipan lagu keroncong saat itu.
Berikut terjemahan langsung dari artikel tersebut.
DARI MANA ASAL NAMA BENKOELEN?
Bangkahoeloe atau Bengkulu
Asal-Usul Nama Tersebut
Surat kabar "Nbld van Benkoelen" menulis: "Apa nama kota kecil kita?"
"Pertanyaan macam apa itu!" — mungkin Anda akan berkata demikian. "Semua orang tahu bahwa kota kita bernama Benkoelen, bukan?"
Memang benar, kita biasa menyebut kota kita Benkoelen, namun sebenarnya masalah ini tidak sesederhana itu. Kenyataan bahwa penduduk asli di sini tidak menyebut Benkoelen, melainkan Bengkoeloe, sudah cukup menjadi alasan untuk menanyakan pertanyaan di atas.
Benar adanya, di kampung-kampung orang masih selalu menyebut Bengkoeloe, dan kompleks perumahan yang berjarak tiga kilometer dari sini dengan sangat pasti disebut Pasar Bengkoeloe. Dan siapa pun yang pernah menghadiri acara berbalas pantun - di malam bulan purnama yang indah, atau (ini yang lebih "modern") mendengarkan lagu-lagu keroncong - pasti akan mengenal bait berikut:
Bangkahoeloe tanahnja ta’ rata,
Poehoen papaja diatas karang.
Kalau Soenggoe nona rasa tjinta,
Ambillah saja dari tangannja orang.
atau yang berikut ini:
Boeah manggis boeah kepajang,
Didjoeal di pasar Bengkoeloe.
Nona manis djanganlah poelang,
Marilah kita bitjara dahoeloe.
atau yang ini lagi:
Dari Palembang ke Bangkahoeloe,
menjoeroeng roda nama pedati.
Hatikoe bimbang rasanja rindoe,
Terkena goda sidjantoeng hati.
Dan siapa yang tidak mengenal ungkapan umum ini:
"Bangkahoeloe bukanlah Semarang,
lain dahulu lain sekarang"?
Maka, tidak diragukan lagi bahwa penduduk asli menyebutnya Bengkoeloe atau Bangkahoeloe, dan bukan Benkoelen. Dan mereka bahkan bisa memperkuat hal ini dengan semacam legenda! Inilah ringkasan legenda tersebut. Dahulu kala, para pedagang Aceh datang menetap di sini untuk mencari nafkah. Kota tempat tinggal kita sekarang tentu saja belum ada saat itu. Namun teluknya sudah bergejolak seperti sekarang. Perahu-perahu Aceh tidak bisa berputar di teluk, dan sudah sewajarnya, satu-satunya tempat bersandar yang aman bagi perahu hanyalah sungai yang saat itu belum bernama, yang bermuara di teluk tersebut: yang sekarang disebut "Soengai Bengkoeloe". Nah, orang-orang memasuki sungai itu saat air pasang; air laut mengalir ke dalam sungai (kali), sehingga terjadi arus ke arah hulu.
Sebatang pohon pinang (kemungkinan pohon pinang yang tumbang karena banjir), hanyut dalam arus yang mengarah ke hulu tersebut. Batang pinang itu hanyut "ke atas", dalam bahasa Melayu disebut: batang pinang itu hanyut ke "hoeloe". Nah, karena pohon pinang dalam bahasa Melayu kuno disebut "bangka", maka orang-orang berhadapan dengan sebatang "bangkahoeloe". Sejak saat itu, tempat tersebut dinamakan "Bangkahoeloe", — yang sekarang menjadi Pasar Bengkoeloe kita!
Sebuah "legenda" yang menarik, bukan?
Menarik sebagai sebuah "cerita", tetapi juga menarik sebagai motif penjelasan mengapa penduduk asli menyebut Bangkahoeloe atau Bengkoeloe.
| Potongan Artikel Tentang Bengkulu (Sumber : De Sumatra Post 1938) |
Diterjemahkan dari :
De Sumatra Post,
1938. Dengan judul asli “Waar komt
Benkoelen vandaan? Bangkahoeloe Of Bengkoeloe.”
